Cerita Kepala Dapur Gizi Kota Sorong Terkait MBG
- 11 Feb 2025 13:10 WIB
- Manokwari
KBRN, Sorong: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo – Gibran telah dilaksanakan di berbagai kota. Tak dapat dipungkiri, hal ini membawa dampak yang signifikan, baik bagi masyarakat sekitar maupun bagi anak penerima manfaat.
Indri Shifa, Kepala Dapur Gizi Kota Sorong, mengungkapkan hal tersebut dalam unggahan video kanal youtube Sekretariat Presiden, Selasa (11/2/2025). Indri mengatakan, dapur gizi yang dikelolanya memiliki 50 orang karyawan yang berasal dari daerah sekitar lokasi.
“Kalau untuk karyawannya sendiri, satu dapur itu ada 50 karyawan. Yang pertama ada Kepala SPPG, Akuntan, Ahli Gizi, dan 47 karyawan,” ujar Indri.
Para karyawan ini dibagi dalam beberapa kelompok tugas. “Masak ada 10 (orang), pendistribusian, driver, persiapan bahan makanan, sampai pencucian ompreng,” jelasnya.
Indri menceritakan, kegiatan dimulai dengan melakukan persiapan bahan makanan pada pukul 19.00 malam hingga 02.00 dini hari. Selanjutnya, proses memasak dilakukan sampai 02.00 hingga 08.00 pagi.
Setelah makanan matang, maka dilanjutkan dengan pemorsian dan pengemasan. “Ada pemorsian, dari jam 03.00 atau 04.00 sampai pagi, sampai selesai packingan,” ungkapnya.
Selanjutnya, petugas pendistribusian membagikan makanan bergizi gratis ke sekolah yang sudah ditentukan. Setelah itu, ompreng yang dibawa kembali akan dicuci oleh petugas pencucian yang bekerja mulai jam 12.00.
Meski begitu, dirinya mengungkapkan adanya kendala dalam program ini. Hal ini disebabkan oleh target produksi mereka yang tidak bertahap, melainkan langsung mencapai tiga ribu porsi.
“Mungkin dari ibu-ibu yang belum bisa mencapai tiga ribu, karena mereka punya tenaga juga, jadi belum diuji dari awal. Kalau yang lainnya itu mereka bertahap,” tambahnya.
Selain tenaga, masalah lain yang dihadapi terkait peralatan yang digunakan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk menyajikan MBG sebanyak yang ditargetkan.
Menu makanan pun turut diatur sedemikian rupa dalam jangka waktu satu bulan. Hal ini dimaksudkan agar menu makanan yang disajikan tidak sama tiap harinya.
Indri menceritakan, siswa-siswi begitu antusias dan gembira saat menyambut kedatangan petugas pendistribusian. Hal yang sama pun tercermin ketika sekolah lainnya mengetahui bahwa mereka menjadi target selanjutnya dari program ini.
Di sisi lain, Indri berharap ada beberapa dapur di sekitar Provinsi Papua Barat Daya. “Agar semua sekolah itu bisa mendapatkan program ini. Supaya gizinya (siswa-siswi) terpenuhi setiap harinya,” tutupnya.