Ratusan Anak Indonesia Terpapar Paham IRET, Penggunan Gadget Mesti Dibatasi

  • 12 Mar 2026 11:58 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Sebanyak 112 anak di bawah umur terpapar paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme (IRET) di Indonesia, hal ini wajib menjadi perhatian serius karena sebagian besar kasus berawal dari aktivitas di media sosial, gadget serta persoalan sosial yang dialami anak.

Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Antiteror Polri AKBP Sufyan Ansyari, mengatakan kasus paling banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Namun demikian, temuan serupa juga sudah muncul di wilayah lain, termasuk di Sulawesi Barat.

“Di tahun 2025 kemarin, itu sudah ada kurang lebih 112 anak di bawah umur yang terpapar akan paham IRET. Itu di beberapa provinsi. Paling banyak itu di Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI,” ujar Sufyan saat menjadi salah satu narasumber di dialog RRI Mamuju, Rabu 11 Maret 2026.

Ia menambahkan, di Sulawesi Barat juga ditemukan satu kasus anak yang terpapar dan terlibat dalam kelompok tertentu. Meski jumlahnya masih sangat sedikit, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian agar tidak berkembang lebih luas.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir generasi muda. Karena itu masyarakat diminta lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak.

“Bahkan di Sulawesi Barat, itu ada satu orang yang terpapar dalam kelompok-kelompok. Kita perlu bijak dalam menangani media sosial yang saat ini menjadi sangat luar biasa. Harapan saya, kita harus bersama-sama,” katanya.

Sufyan juga mengungkapkan, dari hasil investigasi yang dilakukan pihaknya, banyak kasus keterpaparan paham ekstrem pada anak berawal dari masalah sosial, salah satunya pengalaman perundungan atau bullying.

Kondisi tersebut membuat sebagian anak mencari pelarian di dunia maya dan akhirnya terpengaruh oleh kelompok yang menyebarkan paham menyimpang.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk memberikan pendampingan serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak agar tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang salah.

Rekomendasi Berita