Paparan Radiasi Mamuju Capai Sembilan Kali Rata-Rata Global
- 04 Mar 2026 05:13 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Laporan terbaru dari United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) 2024 yang dirilis pada 12 Februari 2026 mengungkapkan bahwa wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, menerima paparan radiasi alam hampir sembilan kali lipat dibandingkan rata-rata global.
Perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR yang juga Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Rahmah Hidayati, menjelaskan bahwa Mamuju masuk dalam kategori High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau daerah dengan tingkat radiasi latar belakang tinggi.
Berdasarkan laporan tersebut, estimasi dosis efektif tahunan dari radiasi alam di Mamuju mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sebagai pembanding, rata-rata paparan radiasi alam secara global berada di angka 3,0 mSv per tahun.
"Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia," kata Nur Rahmah melalui keterangan di Jakarta. Senin, 2 Maret 2026.
Ia menuturkan, tingginya paparan radiasi di wilayah tersebut terutama dipicu oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat besar di dalam tanah.
Konsentrasi Uranium-238 dan Thorium-232 di sejumlah titik di Mamuju tercatat mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000 Becquerel per kilogram (Bq/kg).
Padahal, rata-rata global masing-masing hanya sekitar 33 Bq/kg untuk Uranium-238 dan 45 Bq/kg untuk Thorium-232.
"Angka ini tergolong sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap dosis radiasi yang diterima masyarakat setempat," ujarnya.
Meski paparan radiasi tergolong tinggi, Nur Rahmah menyebut karakteristik bangunan serta pola hidup masyarakat setempat turut membantu menekan potensi peningkatan radon di dalam rumah.
Faktor ventilasi alami serta desain rumah tradisional dinilai menjadi alasan mengapa kadar radon dalam ruangan tidak melonjak tajam dibandingkan kondisi di luar ruangan.
"Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia," ucap Nur Rahmah Hidayati.