Indonesia Produsen Kakao Olahan Keempat Dunia
- 08 Mar 2026 12:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Industri pengolahan kakao Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah dinamika pasar global. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sektor industri agro masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas hingga Desember 2025.
Pemulihan sektor ini terlihat setelah sempat terdampak gangguan pasokan biji kakao global pada 2024. Sejak 2025, ketersediaan bahan baku kakao dalam negeri mulai meningkat sehingga mendorong kembali kapasitas produksi. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan peningkatan pasokan tersebut memperkuat peran industri agro dalam struktur industri nasional.
Ia menyatakan, “Capaian ini menunjukkan peran penting sektor industri agro dalam memperkuat struktur industri nasional. Sejak tahun 2025 ketersediaan bahan baku biji kakao dalam negeri menunjukkan tren peningkatan.”
Sepanjang 2025, industri pengolahan kakao nasional mencatat volume penggilingan sebesar 422.176 ton dan menyumbang devisa sekitar USD 3,42 miliar. Indonesia juga memasok sekitar 8,46 persen kebutuhan kakao olahan dunia, meliputi produk seperti cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake, hingga cocoa powder.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menyebut capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan terbesar keempat di dunia.
“Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia telah menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan industri, pemerintah juga mendorong integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), termasuk revitalisasi kebun, penguatan riset, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Selain itu, program restrukturisasi mesin disiapkan guna memodernisasi industri pengolahan kakao dan cokelat di dalam negeri.
Menurut Putu, dukungan kebijakan internasional juga membuka peluang ekspansi pasar. “Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing industri kakao dalam negeri di pasar global,” tambahnya.