Pemanfaatan Bunker Sebagai Tempat Perlindungan di Kuwait
- 04 Mar 2026 04:34 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Situasi keamanan di Kuwait kian dinamis menyusul meningkatnya ekskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Ishak Nasir selaku Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Kuwait (KKSK) dalam Dialog Interaktif Makassar menyapa pagi Via Zoom langsung dari Kuwait mengatakan Sistem perlindungan di Kuwait kini difokuskan pada pemanfaatan bunker sebagai tempat perlindungan.
“iya disini ada titik kumpul yang disebut bunker sebagai tempat perlindungan nantinya jika terjadi keadaan yang berbahaya, Pemerintah setempat bersama otoritas terkait telah menetapkan bunker-bunker khusus sebagai tempat perlindungan utama bagi warga jika situasi memburuk,”ungkap Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Kuwait kepada RRI. Selasa, 3 Maret 2026.
Dikatakan, Sistem perlindungan di Kuwait kini difokuskan pada pemanfaatan bunker yang tersebar di berbagai titik otoritas wilayah. Warga diinstruksikan untuk segera menuju bunker terdekat saat terjadi keadaan darurat tanpa harus memaksakan diri mencapai gedung KBRI jika jaraknya terlalu jauh. Informasi mengenai lokasi bunker ini telah disebarluaskan secara masif melalui grup komunitas dan WhatsApp agar seluruh warga Sulsel memiliki kesadaran penuh akan langkah penyelamatan diri.
Lebih lanjut Ishak Nasir mengatakan bahwa meskipun saat ini sedang terjadi ketegangan di Wilayah Timur Tengah, aktivitas harian WNI di Kuwait dilaporkan masih berjalan, namun dengan sejumlah pembatasan ketat. Jam kerja yang biasanya delapan jam kini dipangkas menjadi enam jam saja guna mengurangi risiko terpapar bahaya di luar ruangan. Selain itu, kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) kembali diberlakukan dengan kuota kehadiran di kantor hanya dibatasi sebesar 30% dari total karyawan.
Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Kuwait juga mengatakan bahwa Kondisi psikologis warga pun mulai terdampak akibat dentuman yang sesekali terdengar di langit Kuwait. Dentuman tersebut diketahui berasal dari sistem pertahanan udara Kuwait yang melakukan intersepsi terhadap roket yang melintas di wilayah udara mereka. Meskipun suara tersebut memicu kekhawatiran, warga tetap berupaya tenang sembari terus memantau pembaruan informasi dari pihak berwenang dan KBRI.
Terkait rencana evakuasi, jalur darat menuju Arab Saudi menjadi opsi utama yang sedang disiapkan oleh KBRI. Warga yang memutuskan untuk meninggalkan Kuwait akan diarahkan melalui perbatasan darat, namun proses ini memerlukan koordinasi intensif terkait pengurusan visa masuk ke Arab Saudi. Pihak KBRI saat ini tengah mengatur skema penjemputan dan pendampingan bagi warga agar proses perpindahan ke wilayah yang lebih aman dapat berjalan lancar.
“Jadi sebagaimana yang dijelaskan dalam contingency plan KBRI bahwa ketika terjadi peningkatan keadaan ataupun kita harus dievakuasi, maka kita harus ataupun kita akan melewati jalur evakuasi darat Karena untuk saat ini kita ketahui bersama bahwa bandar udara ataupun evakuasi melalui udara tidak dapat dimungkinkan karena bandar udara dalam keadaan ditutup dan satu-satunya jalur akses yang bisa kita lalui nantinya adalah via darat,” ujarnya.
Ishak Nasir di Kuwait juga memberikan pesan khusus bagi sanak saudara yang berada di tanah air, terutama di Sulawesi Selatan. Mereka meminta agar pihak keluarga tidak panik secara berlebihan dan tetap memberikan dukungan moral serta doa bagi keselamatan para perantau. Koordinasi dengan pemerintah pusat dan Kementerian Luar Negeri juga terus dilakukan untuk memastikan perlindungan yang efektif bagi seluruh WNI.