Dinkes Kota Madiun Catat 13 Kasus Campak di Awal 2026, Imunisasi Tetap Digencarkan
- 12 Mar 2026 12:18 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kasus campak masih ditemukan di Kota Madiun pada awal 2026. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun mencatat ada 13 kasus campak hingga awal tahun ini.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan sangat menular. Penularan dapat terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan ketika penderita batuk atau bersin. Gejala campak biasanya diawali dengan demam yang kemudian diikuti munculnya ruam kemerahan pada kulit. Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menimbulkan komplikasi kesehatan seperti diare, radang paru, hingga peradangan pada otak.
Salah satu upaya pencegahan campak adalah melalui imunisasi. Kepala Dinkes PPKB Kota Madiun, dr. Denik Wuryani, mengatakan cakupan imunisasi campak pada 2025 telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
“Cakupan imunisasi campak kita untuk tahun 2025 ada di angka 99,66 persen dari target 95 persen, jadi sudah melebihi target. Kemudian di tahun 2026 ini karena masih sampai Februari baru mencapai 16,33 persen, tapi ini sudah on the track karena kalau dilihat dari capaian per bulan sebenarnya sudah sesuai. Tahun 2026 target kami 97 persen,” ujarnya, Rabu 11 Maret 2026.
Meski demikian, ia tidak menampik masih ada kemungkinan sebagian masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi campak.
Untuk menggencarkan imunisasi, pemerintah pusat juga menjalankan program catch-up campaign atau imunisasi kejar campak. Program tersebut menyasar bayi usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi campak agar dapat memperoleh perlindungan dari risiko penularan penyakit.
Lebih lanjut, dr. Denik mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang libur Lebaran yang identik dengan meningkatnya mobilitas dan pertemuan antaranggota keluarga. Ia menyarankan agar masyarakat menjaga kebersihan diri serta membatasi kontak dengan kelompok rentan, terutama bayi.
“Yang jelas masyarakat perlu menjaga kebersihan diri atau personal hygiene, terutama saat berinteraksi dengan bayi. Sebaiknya tidak sembarangan memegang bayi orang lain karena sistem kekebalan tubuh bayi masih sangat rentan,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat yang sedang sakit diimbau menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas sosial terlebih dahulu atau menggunakan masker agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.