Banyu Biru Dorong Peningkatan Skill Wong Cilik melalui Pendidikan Vokasi di Kawasan Industri

  • 27 Nov 2025 19:14 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Banyu Biru Djarot, kembali menekankan urgensi peningkatan keterampilan (upskilling) bagi wong cilik agar mampu bersaing dan siap memasuki dunia kerja di kawasan industri. Pesan ini ia sampaikan dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke Kawasan Industri MM2100, Cikarang, pada Rabu, 26 November 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Banyu Biru menyampaikan apresiasi terhadap pola pengembangan sumber daya manusia yang diterapkan di MM2100 kawasan industri di Indonesia yang memiliki SMK pertama dan terbesar di dalam area industri. Ia menilai keberadaan SMK vokasi yang langsung terintegrasi dengan lingkungan industri merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan riil dunia kerja. Model seperti ini, menurutnya, layak dijadikan contoh bagi kawasan industri lainnya sekaligus menjadi tolok ukur bagi SMK di berbagai wilayah industri di Indonesia.

“Kita perlu meningkatkan skill wong cilik di kawasan industri. SDM kita harus mampu bersaing. Perjuangkan skill wong cilik agar mereka siap kerja dan bisa memanfaatkan peluang di kawasan industri. Itu yang saya maksud empowering wong cilik,” ujar Banyu Biru.

Anggota DPR RI asal Dapil VII Jawa Timur itu juga menyoroti bahwa pendekatan pendidikan vokasi yang diterapkan di SMK MM2100 sudah sangat selaras dengan kebutuhan para tenant dan perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut. Integrasi ini dinilai efektif dalam menghasilkan tenaga kerja kompeten, tersertifikasi, dan siap bekerja tanpa hambatan keterampilan.

Sementara itu Kepala SMK Mitra Industri MM2100 Lispiyatmini menyampaikan bahwa serapan lulusan mencapai 65% dari total 3.000 alumni. Seluruh persentase tersebut terserap di kawasan industri. Sementara 35% lulusan lainnya memilih jalur berbeda, seperti magang ke Jerman, Jepang, dan negara lain melalui kerja sama sekolah, atau terjun ke dunia wirausaha.

Banyu Biru mendorong agar pendekatan serupa dapat diterapkan di kawasan industri lain di seluruh Indonesia. Ia menilai ada banyak skema yang dapat dikembangkan, mulai dari CSR kolektif para tenant, pembentukan mekanisme pembiayaan baru, hingga kolaborasi dengan SMK sekitar untuk menghadirkan program vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Yang paling penting bagi saya adalah kesejahteraan rakyat, terutama wong cilik. Jika kita ingin industri Indonesia naik kelas, SDM-nya harus naik kelas terlebih dahulu. Wong cilik perlu diberi akses, keterampilan, dan kesempatan,” tegasnya.

Melalui penguatan pendidikan vokasi, Banyu Biru berharap industri nasional tidak hanya berkembang melalui investasi, tetapi juga mampu menjadi mesin peningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan industri-khususnya wong cilik yang membutuhkan akses terhadap pekerjaan berkualitas.

Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari fungsi pengawasan Komisi VII DPR RI terhadap sektor industri, UMKM, ekonomi kreatif, dan standardisasi yang menjadi mitra kerja komisi. Dengan semangat tersebut, Banyu Biru menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan peningkatan kualitas SDM Indonesia agar mampu berkompetisi di tengah industrialisasi dan transformasi teknologi.


Rekomendasi Berita