Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Awal, Lebih Kering

  • 10 Mar 2026 22:42 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Nusa Tenggara Timur (NTT) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan datang lebih awal dibandingkan kondisi normal serta memiliki karakter yang lebih kering. Kepala Stasiun Klimatologi NTT, Rahmatulloh Adji, mengatakan secara umum awal musim kemarau di NTT diperkirakan mulai terjadi pada April 2026.

“Musim kemarau di wilayah NTT secara umum terjadi sekitar bulan April, mulai dasarian pertama hingga dasarian ketiga,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 10 Maret 2026.

Ia menjelaskan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Dari total 28 zona musim di NTT, sekitar 12 zona musim atau 43 persen diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus, sedangkan 14 zona musim lainnya pada September.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi kondisi dinamika atmosfer global.

“Peluang terjadinya El Niño pada semester kedua sekitar 50 hingga 60 persen. Kondisi ini dapat menyebabkan curah hujan pada musim kemarau menjadi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.

Analis iklim BMKG NTT, Hamdan Nurdin, menambahkan bahwa sekitar 61 persen zona musim di NTT diprediksi mengalami sifat kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sementara 39 persen lainnya berada pada kondisi normal.

Awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi di sebagian besar wilayah pada awal April 2026, termasuk Kota Kupang, Kabupaten Kupang bagian selatan, serta sejumlah wilayah di Pulau Flores, Sumba, Alor, dan Timor. “Sebagian besar zona musim diprediksi memasuki awal musim kemarau pada dasarian pertama April,” katanya saat konferensi Pers di Aula BMKG Klimatologi Lasiana.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, terutama pada sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air. Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.

Selain itu, upaya pengelolaan air seperti panen air hujan, revitalisasi waduk, serta perbaikan jaringan distribusi air juga perlu dilakukan guna memastikan ketersediaan air selama musim kemarau. “Karena musim kemarau diprediksi lebih kering dan lebih panjang, masyarakat perlu melakukan antisipasi sejak sekarang,” kata Rahmatulloh.

BMKG juga mengingatkan potensi dampak lain seperti menurunnya debit sumber air, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk selama periode kemarau. (DW)

Rekomendasi Berita