Komunitas Katong pu Mimpi : Implementasi Advokasi Kebutuhan Hak Anak Marjinal
- 10 Mar 2026 11:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Semangat anak muda di Kota Kupang terus tumbuh dalam berbagai bentuk gerakan sosial yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Salah satunya hadir melalui Komunitas Katong Pu Mimpi, sebuah komunitas yang fokus melakukan advokasi dan pendampingan bagi anak-anak marginal di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kota Kupang.
Komunitas ini resmi berdiri pada 1 November 2025, meskipun gagasan dan pergerakan para anggotanya telah dimulai sejak masa sekolah menengah. Dalam wawancara bersama RRI pada Senin, 9 Maret 2026, Ketua komunitas, Aryo Hirepadja, menjelaskan komunitas ini lahir dari keinginan sederhana sekelompok anak muda untuk berbagi dan menghadirkan perubahan bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.
Aryo menegaskan bahwa mimpi adalah hak dasar setiap manusia, termasuk anak-anak yang tumbuh dalam kondisi sosial yang sulit. “Saya rasa mimpi itu hak paling dasar, semua orang berhak bermimpi, dan katong hadir untuk bantu anak-anak marginal percaya bahwa dong juga bisa mengejar masa depan,” ujarnya.
Saat ini Komunitas Katong Pu Mimpi memiliki 19 anggota pengurus dan didukung oleh 21 relawan yang berasal dari berbagai latar belakang anak muda di Kota Kupang. Mereka bersama-sama menjalankan berbagai program advokasi yang berfokus pada anak-anak pekerja, anak disabilitas, serta anak-anak yang hidup di lingkungan rentan seperti kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Salah satu kegiatan yang telah dilakukan adalah program Dream Fair, yang melibatkan anak-anak dari kawasan TPA Alak dan anak-anak pekerja seperti penjual koran di Kota Kupang. Ine Aulia dari divisi program mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari pembelajaran kreatif, permainan, hingga pengenalan berbagai profesi kepada anak-anak.
Komunitas Katong Pu Mimpi menaruh perhatian khusus pada anak-anak yang hidup di lingkungan rentan seperti pekerja anak, anak disabilitas, hingga anak-anak yang tinggal di sekitar tempat pembuangan akhir. Melalui berbagai kegiatan seperti Dream Fair, mereka menghadirkan ruang belajar, permainan, hingga pengenalan berbagai profesi agar anak-anak berani membayangkan masa depan yang lebih luas.
Ine mengungkapkan anak-anak marginal sering kali terjebak pada stigma lingkungan yang membuat mereka sulit bermimpi lebih jauh. “Kadang anak-anak pekerja atau penjual koran merasa hidup dong sudah begitu saja, jadi katong datang untuk memberi motivasi supaya dong percaya kalau dong juga bisa berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Humas, Martini Malaikosa menekankan dengan kehadiran komunitas ini juga bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap anak-anak marginal. “Katong berharap lewat kegiatan dan publikasi yang ada, masyarakat bisa lihat bahwa anak-anak ini punya potensi, dong hanya butuh ruang aman dan dukungan untuk bertumbuh,” tuturnya.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, Komunitas Katong Pu Mimpi percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil anak muda. Di tengah berbagai tantangan sosial di NTT, komunitas ini hadir sebagai pengingat bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak memiliki mimpi dan kesempatan untuk mewujudkannya. (AK)