Empat Pilar Kebangsaan Fondasi Kehidupan Berbangsa Bernegara

  • 09 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang–Anggota Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia (MPR RI) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan di Yayasan Pendidikan Kristen Tois Neno di SMP Kristen 1 Amanuban Barat, Kecamatan Kuatnana, Timor Tengah Selatan (TTS). ‎Sosialisasi empat pilar tersebut meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Anggota MPR RI asal NTT Ir. Abraham Paul Liyanto menyampaikan bahwa empat pilar kebangsaan merupakan fondasi yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.” Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhineka tunggal ika sebagai semboyan Negara, Kata Abraham Paul Liyanto, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Abraham, Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan menjadi sangat krusial saat ini sebagai benteng ideologis di tengah ketidakpastian geopolitik global dan eskalasi perang antar bangsa yang berisiko memicu polarisasi serta krisis ekonomi dunia. “ Dalam situasi yang rentan ini, Indonesia menghadapi ancaman nyata dari ideologi asing yang berusaha mengganti Pancasila dengan sistem yang tidak sesuai dengan akar budaya bangsa, serta upaya sistematis yang ingin memecah belah kesatuan NKRI melalui narasi intoleransi, Ungkapnya. Menurutnya,tanpa pemahaman mendalam terhadap Empat Pilar, ketahanan nasional kita akan rapuh; sebaliknya, dengan memperkuat fondasi ini, masyarakat memiliki panduan nilai untuk tetap bersatu, menolak provokasi radikal, dan menjaga kedaulatan negara dari segala bentuk intervensi maupun ancaman disintegrasi yang muncul dari dinamika politik internasional.

Sementara itu Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Sabeb Y. Ena Blegur dalam suara gembalanya mengatakan saat ini nilai-nilai Pancasila tergerus, bahkan pada anak-anak sekolah. Karena itu tugas kita adalah menghidupkan kembali nilai-nilai ini untuk memperkokoh kesatuan NKRI. Hal ini menjadi perhatian pendidikan di GMIT. ‎”Didiklah anak-anak dengan hati untuk memiliki karakter yang baik. Itu yang menjadi pembeda bagi kita dengan sekolah- sekolah lain, bahwa mereka tidak hanya pintar tetapi memiliki karakter yang baik, untuk bisa bersaing di level nasional maupun internasional,” ujarnya.

Kegiatan Sosialisasi ini dihadiri oleh para guru sekolah di bawah naungan Yapenkris Tois Neno, Pengurus Majelis Pendidikan Kristen (MPK) NTT, Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman Nenohai, Pengurus dan Pengawas Yapenkris Tois Neno. SMP Kristen 1 Amanuban Barat saat ini memiliki 319 siswa dan 26 tenaga pendidik, di bawah kepemimpinan Sinorance Neno, S.Pd. (humas/anna).

Rekomendasi Berita