Pemuda GMIT Gelar Festival Paskah 2026, Gaungkan Damai dari NTT

  • 05 Mar 2026 05:12 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) akan menyelenggarakan Festival Paskah 2026 dengan tema Damai Dari NTT Untuk Indonesia, City Of Love And Harmony. Festival ini akan berlangsung dengan skala yang lebih besar dan berdampak signifikan bagi masyarakat.

Dalam obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang, Rabu 4 Maret 2026, Ernest Blegur, SE., MM selaku Ketua Pengurus Pemuda Sinode GMIT dan Simson Polin, Ketua Panitia Festival Paskah Pemuda Sinode GMIT 2026, memaparkan persiapan matang untuk menjadikan Paskah tahun ini sebagai momentum kebangkitan ekonomi dan penguatan iman. Ernest menegaskan bahwa tahun ini terjadi peningkatan konsep dari sekadar pawai atau prosesi menjadi sebuah festival besar.

"Kami ingin merubah proses euforia menjadi proses yang berdampak, baik secara ekonomi maupun spiritual," ujarnya. Sebelum dimulai prosesi Paskah atau Pawai Kemenangan pada, Senin 6 April 2026, akan didahului dengan serangkaian kegiatan besar, di antaranya Obor Perdamaian, yang akan dibawa mulai dari perbatasan Atambua pada 27-28 Maret, melintasi TTU, TTS, Kabupaten Kupang, hingga berakhir di Kota Kupang.

Selanjutnya ada Paskah Bahari (Prosesi Galilea), yang melibatkan para nelayan dengan rute dari Lasiana dan titik-titik lain seperti Pulau Semau dan Tablolong, yang akan finish di Pantai LLBK untuk makan Paskah bersama. “Rute dimulai dari Bundaran PU dan finisih di LLBK, disitu akan ada makan Paskah bersama. Menunya adalah ikan, dimana kami akan membeli ikan dari para nelayan, dan kita akan makan bersama akbar," katanya.

"Semuanya gratis, siapa saja boleh makan,” ujar Ernest. Selain itu Festival Paskah 2026 melibatkan Expo UMKM, yang menghadirkan ratusan pelaku UMKM di sepanjang jalur prosesi untuk mendorong perputaran ekonomi lokal.

Sementara itu Prosesi Paskah merupakan puncak acara yang akan menggambarkan narasi Alkitab mulai dari penciptaan hingga kenaikan Yesus Kristus. Ketua Panitia, Simson Polin, menjelaskan bahwa setelah prosesi di Kota Kupang, obor perdamaian akan dibawa ke Pulau Rote, tepatnya di titik nol terselatan Nusantara.

Hal ini melambangkan suara damai yang dikumandangkan dari beranda terdepan Indonesia untuk dunia. "Pada tanggal 10 April pagi kita akan berangkat ke Pulau Rote untuk disimpan di titik nol, tentunya di sana kita mengingat kembali sejarah GMIT, yang mana ada salah satu gereja tertua GMIT yang ada di situ," ujarnya.

"Disitu kita akan berdoa akan banyak refleksi paduan suara dan lain-lain, kemudian baru kita taruh obor itu di titik nol. Ini bukan sekadar gaya-gayaan, ini bagian dari pelayanan refleksi iman yang dalam, kami ingin pesan damai ini tersampaikan turun-temurun," ucap Simson.

Panitia mencatat bahwa pada tahun sebelumnya, perputaran uang selama prosesi mencapai lebih dari Rp 6 Miliar. Dengan keterlibatan sekitar 200 UMKM tahun ini dan penggunaan sistem pembayaran non-tunai (bekerja sama dengan Bank NTT dan BI), diharapkan dampak ekonomi bagi masyarakat Kupang akan semakin melonjak.

Selain itu, Pemuda GMIT juga ingin menjadikan NTT sebagai destinasi wisata religi terbesar di Indonesia, bersanding dengan tradisi Semana Santa di Flores. Hal ini membuat setiap orang yang datang ke Kupang, akan rindu melihat, menyaksikan dan mengikuti event ini.

“Kalau di Flores ada Semana Santa, maka di Kupang ada Festival Paskah. Ini momen bagi kita semua untuk merasakan kebersamaan, damai dan pesan akan pengorbanan Kristus bagi umat manusia,” ujar Ernest.

Festival ini juga mengusung misi "Bumi yang Terluka". Panitia menekankan pentingnya kebersihan dengan menyiapkan tim kebersihan khusus dan mengimbau peserta membawa pulang sampah masing-masing.

Selain itu juga akan dilakukan aksi nyata seperti penanaman pohon dan sosialisasi isu sosial kepada generasi muda di sekolah-sekolah. Festival Paskah Pemuda Sinode GMIT 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi "nafas karya" yang membuktikan bahwa NTT adalah kota penuh cinta dan harmoni (City of Love and Harmony).

“Apa yang kita buat sekarang akan kita tuai di anak cucu kita. Generasi sekarang sudah harus mulai mengerjakan perdamaian. Saya berharap bahwa tidak hanya slogan yang kita bawakan, yaitu damai untuk NTT, tetapi lewat tindakan dan perbuatan seperti Festival Paskah ini,” ujar keduanya. (JR)

Rekomendasi Berita