1 Maret 1949, Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan
- 28 Feb 2026 22:46 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Tanggal 1 Maret diperingati sebagai peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti nyata perjuangan Tentara Negara Indonesia (TNI) dalam mempertahankan kedaulatan dari Agresi Militer Belanda II.
Saat itu, ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta karena kondisi Jakarta yang tidak aman. Meski berstatus sebagai ibu kota, situasi Yogyakarta juga berada dalam tekanan militer Belanda yang berupaya menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia telah melemah.
Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serangan tersebut merupakan respons atas agresi Belanda yang berusaha menguasai Yogyakarta. Di tengah situasi genting, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengirimkan surat kepada Panglima Besar Sudirman untuk meminta izin melancarkan perlawanan terbuka.
Pada 1 Maret 1949, pasukan TNI melaksanakan serangan secara terkoordinasi di berbagai titik. Operasi yang dikenal sebagai Operasi Gerilya Rakyat Semesta itu berhasil memukul mundur pasukan Belanda dan menguasai Yogyakarta selama kurang lebih enam jam.
Walau berlangsung singkat, keberhasilan tersebut memiliki dampak besar. Serangan ini membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan militer dan pemerintahan yang berjalan. Posisi Indonesia dalam perundingan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa pun semakin kuat.
Sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa tersebut, dibangun Monumen Serangan Umum 1 Maret yang kini menjadi salah satu simbol perjuangan di Kota Yogyakarta.
Peringatan 1 Maret menjadi pengingat bahwa mempertahankan kemerdekaan membutuhkan strategi, persatuan, dan keberanian.