Kaimana Target Sentra Pala Terbesar Indonesia
- 27 Feb 2026 15:22 WIB
- Kaimana
RRI.CO.ID, Kaimana - Pemerintah Kabupaten Kaimana menargetkan daerahnya menjadi sentra pala terbesar di Indonesia pada 2030. Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kaimana, Alexander Furay, dalam saat menghadiri Reses Irsan Lie Anggota DPR Papua Barat di Jalan Cendrawasi Kelurahan Kota Kaimana baru baru ini.
Menurut Alexander, tahun ini hampir seluruh lahan pengembangan difokuskan untuk penanaman pala. Dari total pengembangan, sekitar 600 hektare merupakan dukungan swadaya dan pihak terkait, sementara kurang lebih 300 hektare bersumber dari APBD.
“Totalnya hampir 900 hektare kita tanam pala tahun ini. Target kami 2030, semua orang Kaimana paling kurang punya satu hektare pala,” ujarnya. Ia optimistis Papua Barat mampu menjadi daerah dengan luas areal dan produksi pala terbesar di Indonesia. Saat ini, luas kebun pala Papua Barat tercatat sebagai yang terbesar ketiga secara nasional.
“Kita pastikan Papua Barat memiliki luas area dan produksi pala terbesar di Indonesia. Apalagi pala Papua ini punya keunggulan tersendiri dari sisi kualitas,” katanya.
Namun demikian, Alexander mengakui tantangan utama yang dihadapi petani pala saat ini adalah persoalan mutu, khususnya kandungan jamur yang menyebabkan penolakan di pasar ekspor. Ia menyebut sekitar 60 persen pala Indonesia ditolak pasar Eropa karena terindikasi jamur.
“Uni Eropa tidak mau tahu. Kalau ada jamur, langsung ditolak. Ini yang membuat harga pala kita jatuh. Diduga penyebabnya kadar air tinggi dan cara penyimpanan yang belum bersih,” jelasnya.
Sebagai solusi, pada tahun lalu pihaknya telah membangun dua unit alat pengering tenaga surya (solar dryer) di Kampung Jarati dan Kampung Wetuf, Distrik Arguni Atas. Dengan teknologi tersebut, proses pengeringan hanya memerlukan waktu sekitar 12 jam, dari pagi hingga sore hari, dengan kadar air mencapai 10 persen atau sesuai standar nasional.
“Tahun ini kami kembali mengadakan dua unit alat pengering di Kambala dan Distrik Kambrauw. Harapan kami, ke depan mutu pala kita di atas 60 persen sudah memenuhi standar kualitas ekspor,” ungkapnya.
Alexander menambahkan, potensi ekonomi pala di Kaimana sangat besar. Ia mencontohkan, terdapat satu kampung yang dalam setahun mampu meraup pendapatan hingga Rp2 miliar dari hasil penjualan pala. Bahkan, satu pembeli dapat mengirim sedikitnya 1.000 ton pala per tahun.
“Ini luar biasa. Tapi kalau kena jamur, semua terdampak. Petani rugi, pembeli rugi, daerah juga rugi,” tegasnya. Karena itu, ia berharap dukungan DPRD untuk membantu pengadaan tambahan alat pengering guna menjaga kualitas dan daya saing pala Kaimana di pasar global.
“Kami berharap dewan bisa membantu pengadaan alat pengering pala. Kalau bisa dua unit tambahan, kami sangat bersyukur,” pungkas Alexander.