China Beri Subsidi Kelahiran untuk Atasi Krisis Populasi
- 30 Jul 2025 11:11 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Pemerintah China mengumumkan peluncuran program subsidi nasional untuk keluarga yang memiliki anak kecil, sebagai bagian dari upaya mengatasi penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan. Setiap keluarga yang memiliki anak di bawah usia tiga tahun berhak menerima subsidi tahunan sebesar 3.600 yuan, atau sekitar Rp8 juta, selama tiga tahun pertama kehidupan anak.
Dilansir dari laporan BBC News (29/7/2025), program ini berlaku untuk anak-anak yang lahir antara tahun 2022 hingga 2024, dan diperkirakan akan menjangkau sekitar 20 juta keluarga di seluruh negeri.
Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran akan laju kelahiran yang terus menurun di China. Pada tahun 2024, jumlah kelahiran bayi di negara itu tercatat hanya sekitar 9,54 juta — salah satu yang terendah dalam sejarah modern China. Padahal, pemerintah telah mencabut kebijakan satu anak sejak satu dekade lalu.
Menurut data yang dikutip BBC, biaya membesarkan seorang anak hingga usia 17 tahun di China kini rata-rata mencapai 75.700 dolar AS, atau lebih dari Rp1,2 miliar, menjadikannya salah satu negara dengan biaya pengasuhan anak tertinggi di dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat pasangan muda untuk memiliki anak.
Selain subsidi dari pemerintah pusat, sejumlah daerah di China juga telah meluncurkan program bantuan serupa. Misalnya, kota Hohhot di wilayah Mongolia Dalam memberikan insentif hingga 100.000 yuan bagi keluarga dengan tiga anak atau lebih. Sementara itu, kota Shenyang menawarkan subsidi bulanan sebesar 500 yuan bagi anak ketiga di bawah usia tiga tahun.
Pemerintah pusat juga tengah mengembangkan rencana penyediaan pendidikan prasekolah gratis secara nasional untuk meringankan beban biaya keluarga dan memperluas akses pendidikan anak usia dini.
Kebijakan ini mencerminkan keseriusan pemerintah China dalam menghadapi krisis demografi — termasuk populasi yang menua dan jumlah tenaga kerja produktif yang menyusut.