Inovasi Mahasiswa UNEJ Digitalisasi Pendidikan Daerah 3T
- 04 Des 2025 23:08 WIB
- Jember
KBRN,Jember: Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, masih ada ribuan pelajar di pelosok negeri yang harus berdamai dengan sinyal yang timbul tenggelam, perangkat yang terbatas, dan minimnya pelatihan digital. Bagi sebagian siswa di kota, belajar dari platform daring mungkin sudah menjadi keseharian. Namun bagi mereka yang tinggal di wilayah 3TTerdepan, Terluar, dan Tertinggal digitalisasi justru kerap menghadirkan sebuah jurang baru.
Keresahan inilah yang dirasakan Hani Rizki Maulida, mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember. Dalam perjalanannya mengajar di daerah-daerah terpencil, ia menyaksikan sendiri bagaimana ketimpangan akses membuat anak-anak desa tertahan, bukan oleh kemauan, tetapi oleh keterbatasan geografis dan ekonomi.
“Teknologi itu seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang,” ujar Hani Kamis (4/12/2025).
Pengalaman personal itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah esai berjudul “Digitalisasi Pendidikan: Antara Jembatan Inovasi atau Jurang Ketidakadilan?”. Tulisan tersebut tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga membawa solusi konkret. Esai tersebut mengantarkan Hani meraih Juara 3 Lomba Esai Nasional yang diselenggarakan oleh Logaritma FMIPA Universitas Udayana pada 25 Oktober 2025.
Dalam esainya, Hani mengungkapkan keresahan bahwa kebijakan digitalisasi nasional belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. Akses internet yang lemah serta kompetensi digital yang masih rendah membuat siswa dan guru di daerah 3T tertinggal dua langkah dari pusat kota.
Ia menyadari bahwa tanpa strategi yang tepat, digitalisasi hanya akan menguntungkan sebagian wilayah—berlawanan dengan semangat SDGs poin 4 tentang pendidikan berkualitas yang merata.
Untuk menjawab persoalan ini, Hani menawarkan konsep Mobile Learning Environment System (MLES)—sebuah modifikasi sistem hybrid semi offline-online yang fleksibel dan adaptif untuk kondisi pelosok.
Konsep ini terinspirasi dari praktik pembelajaran di Malaysia tahun 2020, namun dipadukan dengan konteks lokal Indonesia. MLES menitikberatkan pada tiga hal yaitu Konten digital bisa diakses tanpa harus tergantung pada koneksi internet yang stabil. Siswa dapat mengunduh konten saat sinyal tersedia, lalu belajar secara offline. Pemerataan Kompetensi Digital MLES tidak hanya fokus pada perangkat, tetapi juga peningkatan literasi digital bagi guru dan siswa. Teknologi dirancang agar benar-benar menjadi alat pemerataan pendidikan, sejalan dengan rekomendasi OECD 2023.
“Banyak inovasi pendidikan gagal bukan karena idenya jelek, tetapi karena tidak cocok dengan realitas lapangan,” jelas Hani. “MLES mencoba menjembatani itu.”
Hani mengakui bahwa keberhasilannya tidak lepas dari bimbingan dosen dan diskusi dengan rekan-rekan kampus. Atmosfer akademik UNEJ yang terbuka terhadap isu sosial membuatnya tergerak untuk mengembangkan solusi yang berpijak pada riset dan kebutuhan masyarakat.
Kemenangan ini, baginya, bukan sekadar prestasi individu. Ini adalah bukti bahwa mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi nasional.
Lewat inovasinya, Hani berharap MLES dapat diperbincangkan lebih luas. Ia ingin pemerintah serta pemangku kebijakan menjadikan model ini sebagai pertimbangan dalam merancang digitalisasi pendidikan yang benar-benar inklusif.
“Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang sama,” tutupnya. “Kalau digitalisasi ingin berhasil, ia harus berpihak pada mereka yang paling tertinggal.”