KKN 3T UNEJ Gagas Mini Hilirisasi Kepiting Bakau

  • 05 Agt 2025 22:37 WIB
  •  Jember

KBRN,Jember: Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) kembali menunjukkan kiprahnya dalam mendampingi masyarakat pelosok negeri lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 3T. Salah satu titik pengabdian tahun ini berada di Kampung Warimak, Distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat.

Frenix Putri Ardella, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UNEJ, bersama timnya menjalankan inovasi pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi alam.

Salah satu program utama yang dilaksanakan adalah pengembangan mini hilirisasi kepiting bakau, yang menjadi produk unggulan khas Warimak. Program ini mencakup berbagai tahap, mulai dari pelatihan budidaya, teknik pengasapan hasil panen, pelabelan produk, hingga pengembangan branding dan strategi promosi digital.

“Selama pengabdian, kami menjalankan beberapa program utama, salah satunya adalah pengembangan mini hilirisasi kepiting bakau sebagai produk unggulan lokal. Kami juga menyusun SOP produksi yang inklusif,” ujar Frenix Selasa (5/8/2025).

Frenix menjelaskan bahwa pemilihan budidaya kepiting bakau didasarkan pada potensi besar yang dimiliki Kampung Warimak. Selama ini, kepiting hanya ditangkap dan dijual dalam bentuk mentah, tanpa adanya pengolahan lanjutan yang dapat meningkatkan nilai ekonominya.

“Berdasarkan observasi dan wawancara dengan warga, kepiting bakau sudah biasa ditangkap dan dijual secara mentah. Padahal masyarakat memiliki keterampilan dasar, yang perlu diperkuat pada aspek manajerial, branding, dan akses pasar,” lanjutnya.

Konsep mini hilirisasi yang diterapkan oleh tim KKN UNEJ mengacu pada pengembangan rantai nilai dalam skala kecil namun berkelanjutan. Tidak hanya fokus pada penangkapan atau budidaya, mahasiswa juga memperkenalkan proses pengolahan dengan teknik pengasapan, pengemasan, pelabelan, dan pemasaran.

“Kami menggunakan rumah pengasapan sebagai bagian dari teknik pengolahan. Ini adalah metode tradisional yang efisien dan ramah lingkungan, serta telah diuji oleh warga lokal,” jelas Frenix.

Namun, di balik potensi besar, masyarakat juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan alat tangkap (bubu), kurangnya pelatihan teknis, belum adanya standar produk, serta distribusi hasil panen yang belum rapi.

Rekomendasi Berita