Suka Duka ABK Kapal Rindu Momen Lebaran Bersama Keluarga

  • 13 Mar 2026 09:32 WIB
  •  Jakarta

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bekerja di tengah bentangan lautan lepas seringkali terdengar menjanjikan, namun di balik itu, ada pengorbanan besar yang harus dibayar mahal. Hal inilah yang dirasakan oleh Lajum (50), seorang pelaut asal Ambon yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai Anak Buah Kapal (ABK).

Ditemui saat sedang transit di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Lajum membagikan kisah suka dukanya. Pria paruh baya ini tengah bersiap untuk kembali berlayar setelah menghabiskan waktu cuti selama dua bulan di kampung halamannya di Ambon. Rencananya, ia akan bertolak menuju Batam menggunakan kapal Pelni KM Nggapulu, sebelum akhirnya menyeberang ke Singapura untuk kembali bekerja di kapal bunker minyak.

"Kemarin saya baru selesai berlayar selama 8 bulan, lalu pulang ke Ambon 2 bulan. Ini mau balik lagi ke Batam, lalu menyeberang ke Singapura. Kerjanya di kapal LCT yang memuat minyak dari Johor, Malaysia untuk menyuplai kapal-kapal di perairan Singapura," ujar Lajum bercerita kepada RRI Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.

Bagi seorang pelaut, momen berkumpul bersama keluarga di hari raya seringkali hanya menjadi angan-angan. Lajum mengaku, salah satu hal terberat dari profesinya adalah saat harus merayakan Idulfitri di tengah laut, jauh dari anak dan istri.

"Momen yang paling membekas di hati itu pas pulang salat Id, di rumah biasanya ada keluarga yang nungguin. Kalau di laut, selesai salat kita ya cuma bisa merenung," ungkapnya dengan nada sendu.

Meski begitu, ia dan 10 rekan ABK lainnya selalu punya cara untuk menghidupkan suasana Lebaran di atas kapal. Jika kapal sedang tidak bersandar, mereka akan bergotong royong memasak hidangan spesial seperti sate atau makanan kesukaan masing-masing. Beruntung, kemajuan teknologi internet satelit (Starlink) yang kini terpasang di kapal sangat membantunya melepas rindu melalui panggilan video (video call) bersama dua anaknya yang kini beranjak remaja.

Tidak hanya menahan rindu, keselamatan nyawa adalah taruhan sehari-hari. Pengalaman paling mengerikan yang tak bisa ia lupakan adalah saat kapalnya terjebak cuaca buruk dalam pelayaran dari Thailand menuju Vietnam.

"Ombak di bulan Desember atau Januari itu luar biasa. Kalau sudah situasi ombak seperti itu, kita cuma bisa ingat kampung halaman. Mau gimana lagi, kita sudah terjun ke situ, risikonya mati. Kita cuma bisa berdoa, memohon rahmat keselamatan dari Allah," kenang Lajum, yang sudah memulai karier pelautnya sejak rentang tahun 2007-2008 tersebut.

Meski penuh risiko dan harus mengorbankan waktu bersama keluarga, Lajum mengakui bahwa profesi pelaut sangat menjanjikan dari segi finansial. Penghasilan bersih yang diterima sepenuhnya bisa ditabung karena seluruh kebutuhan hidup di atas kapal telah ditanggung.

Bahkan, untuk rute pelayaran luar negeri seperti ke Singapura, bayaran yang diterima bisa mencapai USD 30 (sekitar Rp460.000) per jam.

Dari hasil keringatnya menaklukkan ombak, Lajum berhasil mewujudkan hal yang paling esensial bagi keluarganya: memiliki rumah sendiri.

"Fokus utama saya itu rumah dulu. Supaya kita tidak numpang sama keluarga atau mertua, kita harus punya rumah sendiri. Gajinya memang menjanjikan, apalagi bersih tidak ada pengeluaran di laut. Tinggal pintar-pintarnya kita menabung dan tidak boros saat di darat," pesan Lajum mengakhiri perbincangan.

Di usianya yang menginjak setengah abad, Lajum menjadi bukti nyata dari potret kerasnya perjuangan seorang ayah. Ia rela menerjang badai dan kesepian di samudra, demi memastikan anak-anaknya di daratan memiliki masa depan yang cerah

Rekomendasi Berita