Mahasiswa UI Teliti Potensi Hidrogen Geologis di Indonesia

  • 15 Mei 2025 20:59 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Mahasiswa Departemen Teknik Kimia angkatan 2021, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Deni Suryo Pratama mengkaji potensi produksi hidrogen geologis di Indonesia, dengan mengangkat topik “Analisis Tekno-Ekonomi dan Evaluasi Regulasi Produksi Hidrogen Geologis di Tanjung Api, Sulawesi”. Penelitian tersebut dilakukan di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energidan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Penelitian fokus pada kawasan Tanjung Api, Sulawesi Tengah, yang berdasarkan publikasiPusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM tahun 2024, mengandung hidrogenalami mencapai 35,56% pada rembesan gas alamiah. Temuan tersebut menjadikan Tanjung Api sebagai salah satu lokasi paling prospektif di Indonesia untuk pengembangan energi bersih berbasis hidrogen.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Deni mengusulkan penggunaan teknologi Pressur e Swing Adsorption (PSA), yang mampu menghasilkan hidrogen dengan kemurnian 99,99% dan tingkat pemulihan 87,4%. Sedangkan evaluasi ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Retu rn (IRR).

“Hasil penelitiannya menunjukkan skema Gross Split Non Konvensional (95% untuk kontraktor dan 5% untuk pemerintah) merupakan opsi paling ekonomis. Jika gas alam dijual sebagai produk sampingan, Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) bisa ditekan hingga 3,89 USD/MMBTU. Namun, tanpa penjualan gas alam, nilai LCOH melonjak signifikan hingga 13,39 USD/MMBTU,” kata Deni dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/5/2025).

Lebih lanjut Deni menjelaskan, analisis sensitivitas yang dilakukan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa laju alir produksi menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan ekonomi proyek. Selain itu, skemaCost Recover y juga dinilai lebih sensitif terhadap perubahan variabel dibandingkan Gross Split,sehingga perlu perhatian khusus dalam implementasi teknis di lapangan.

”Jika hasil penelitian ini diimplementasikan secara nyata, produksi hidrogen geologis dari wilayahseperti Tanjung Api dapat menjadi alternatif energi bersih yang berkelanjutan sekaligusmengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi fosil,” ujar Deni.

Selain mendukung target Net Zero Emission 2060, teknologi ini juga berpotensi menciptakanlapangan kerja baru, meningkatkan kapasitas riset nasional, dan menyediakan sumber energiramah lingkungan bagi industri maupun masyarakat umum, terutama di wilayah timur Indonesiayang kaya sumber daya namun minim infrastruktur energi.

Sebagai pengembangan dari penelitian ini, Deni mengusulkan pembentukan Center of Hydrogen Excellence Indonesia, yaitu pusat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam memperkuat riset dan inovasi teknologi hidrogen, pengembangan SDM, serta mendorong transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060. Dia berharap studi ini dapatmenjadi rujukan awal untuk kebijakan strategis ke depan.

Sementara itu, Dosen pembimbing penelitian Cindy Dianita menyampaikan, penelitian tersebut memiliki nilai kebaruan yang sangat tinggi karena menjadi salah satu studi pertama di Indonesia yang mengkaji hidrogen alami dari sisi kelayakan teknis dan ekonomis.

“Saat ini, hasil penelitian Deni juga tengah dijadikan salah satu referensi oleh Kementerian ESDM dalam prosespenyusunan regulasi terkait pengembangan hidrogen di Indonesia. Ini membuktikan bahwa risetdi tingkat mahasiswa pun bisa memberikan dampak nyata terhadap arah kebijakan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FTUI Prof. Kemas Ridwan Kurniawan memberikan apresiasi atascapaian tersebut. ”Penelitian ini menjadi tonggak penting dalam eksplorasi sumber energi baru diIndonesia. Kami percaya, melalui kolaborasi lintas sektor antara akademisi, industri, pemerintah,dan masyarakat, Indonesia dapat memimpin pengembangan energi bersih yang mendukungtransisi energi dan target Net Zero Emission 2060,” katanya.

Rekomendasi Berita