Iran Buka Selat Hormuz Secara Terbatas
- 17 Mar 2026 14:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran Tutup Selat Hormuz bagi Musuh Namun Tetap Terbuka untuk Mitra
- Kapal dari India dan Turki Mulai Mendapat Izin Melintas dengan Aman
- Harga Minyak Dunia Bertahan di Atas 100 Dolar AS Akibat Krisis Energi
RRI.CO.ID, Teheran — Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi sebagian besar negara, namun akan ditutup bagi pihak yang dianggap musuh. Kapal-kapal dari negara yang tidak terlibat dalam konflik masih diizinkan melintas dengan syarat melakukan koordinasi dengan militer Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi negara yang mendukung agresi terhadap Iran. Hal tersebut disampaikan pada hari Senin, 16 Maret 2026, dilansir dari TRT World.
Pernyataan ini juga diperkuat oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Ia menyebut bahwa kapal-kapal harus memperoleh izin dari otoritas militer sebelum melintasi jalur tersebut.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Konflik tersebut telah mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Akibat konflik tersebut, banyak kapal tanker tertahan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak global. Kondisi ini menyebabkan lalu lintas kapal menurun drastis dan memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Meski demikian, Iran mulai memberikan izin terbatas bagi sejumlah kapal untuk melintas. India menjadi salah satu negara yang mendapat pengecualian, dengan dua kapal tanker LPG berhasil melewati selat dengan aman.
Hal ini dikonfirmasi oleh pejabat India, Rajesh Kumar Sinha, serta duta besar Iran untuk India, Mohammad Fathali. Selain India, sebuah kapal tanker juga dilaporkan menuju Pakistan berdasarkan data pelacakan dari Bloomberg.
Negara lain seperti Bangladesh dan Turki juga berpotensi mendapatkan izin serupa. Turki telah berhasil mengamankan izin untuk satu kapal, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu.
Walaupun terdapat kelonggaran terbatas, pasar energi global tetap berada dalam kondisi waspada. Harga minyak mentah Brent dilaporkan tetap berada di atas 100 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel.
Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Situasi tersebut dapat memperketat pasokan energi dunia dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.