Indonesia Perkuat Jejaring Bisnis Boga Bahari Global di AS
- 17 Mar 2026 12:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Partisipasi Indonesia membuka peluang kerja sama dengan importir global serta memperkuat citra produk perikanan berkelanjutan.
- Indonesia merupakan pemasok utama udang dan tuna ke pasar Amerika Serikat serta memperkuat posisi di SENA 2026 Boston.
- Nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai 1,17 miliar dolar AS pada 2025.
RRI.CO.ID. Boston – Sejumlah perusahaan perikanan Indonesia tampil pada ajang Seafood Expo North America (SENA) 2026 di Boston, Amerika Serikat (AS). Kehadiran produk-produk olahan perikanan Tanah Air itu mendapat perhatian dari Staf Khusus Kementerian Koordinator (Kemenko) Pangan, Bara Krishna Hasibuan
Menurut dia, kehadiran Indonesia itu sangatlah penting untuk memperkuat posisi produk perikanan kita di pasar global. “Saat ini, Indonesia merupakan salah satu pemasok utama udang dan tuna ke pasar AS,” ujarnya di Boston, Senin 16 Maret 2026.
Bara menegaskan partisipasi Indonesia pada pameran boga bahari terbesar di Amerika Utara merupakan momentum promosi yang sangat krusial. Dia meyakini ajang ini dapat meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas produk perikanan hasil tangkapan nasional.
Atase Perdagangan (Atdag) RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, menambahkan para peserta telah memulai penjajakan bisnis secara optimal. Menurut dia, ada ketertarikan sangat kuat dari para importir mancanegara terhadap beragam produk perikanan Indonesia.
“Para peserta pameran dari Indonesia memanfaatkan kesempatan ini untuk menjajaki kerja sama bisnis dengan importir dan distributor AS,” ujarnya. “Kami melihat minat yang kuat terhadap produk perikanan Indonesia serta peluang kerja sama yang akan terus berkembang.”
Ranitya berharap keikutsertaan Indonesia pada SENA 2026 dapat memperkokoh kehadiran produk boga bahari nasional. Menurut pengamatannya, potensi kerja sama ekspor udang, tuna, serta produk bernilai tambah Indonesia ke AS semakin terlihat jelas.
Perwakilan PT Benteng Laut Sejahtera (BLS), Alexander Sarumaha, menyatakan pihaknya berupaya merangkul nelayan lokal skala kecil. “Kami membawa misi memperkenalkan tuna hasil tangkapan nelayan kita yang bertanggung jawab di pasar dunia,” ujarnya.
Menurut Alexander, pameran internasional ini menjadi sarana paling efektif untuk memperluas akses pasar komoditas tuna secara global. Perusahaan ini merupakan anggota Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) yang mendukung prinsip perikanan berkelanjutan.
Duta Besar RI untuk AS, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menekankan pentingnya penguatan kemitraan perdagangan berbasis kepercayaan pasar. “Keikutsertaan Indonesia membuktikan komitmen terhadap praktik perikanan yang aman dan dapat ditelusuri,” ujarnya.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN), Fajarini Puntodewi, mengatakan akan terus mengupayakan perluasan akses pasar perikanan global. “Kami optimistis kehadiran perusahaan-perusahaan Indonesia akan meningkatkan nilai transaksi dagang sekaligus memperkuat citra produk nasional,” ujarnya.
Paviliun Indonesia pada ajang ini mengusung tema khusus yang mencerminkan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan laut nasional. Sejumlah perusahaan besar yang berpartisipasi antara lain PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk dan PT Intimas Surya.
Nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS pada 2025 mencapai USD1,17 miliar. Komoditas utama yang diminati pasar AS antara lain udang, filet beku, tilapia, serta berbagai jenis moluska lainnya.
Pemerintah juga menjadwalkan pertemuan strategis dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) serta Food and Drug Administration (FDA). Tujuannya untuk memastikan standar keamanan pangan produk ekspor Indonesia telah memenuhi regulasi ketat di AS.