Sri Lanka Naikkan Harga Bahan Bakar akibat Konflik Timteng
- 11 Mar 2026 22:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Kolombo — Sri Lanka menaikkan harga bahan bakar eceran mulai tengah malam hari Senin, 9 Maret 2026. Kebijakan ini diambil di tengah fluktuasi tajam harga minyak mentah global, dilansir dari Xinhua.
Gejolak harga tersebut dipicu oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Kenaikan harga tersebut diumumkan oleh perusahaan energi milik negara Ceylon Petroleum Corporation.
Langkah ini dilakukan sebagai penyesuaian terhadap kondisi pasar energi internasional yang tidak stabil. Dalam penyesuaian terbaru, harga Auto Diesel naik sebesar 22 rupee (Rp4.036) menjadi 303 rupee (Rp55.595) per liter.
Sementara itu, harga Super Diesel meningkat 24 rupee (Rp4.403) menjadi 353 rupee (Rp64.765) per liter. Harga Petrol 92 Octane juga naik 24 rupee (Rp4.403) menjadi 317 rupee (Rp58.161) per liter.
Selain itu, harga Petrol 95 Octane meningkat 25 rupee (Rp4.587) menjadi 365 rupee (Rp66.975) per liter. Selain itu, harga minyak tanah atau kerosin turut dinaikkan sebesar 13 rupee (Rp2.385) menjadi 195 rupee (Rp35.781) per liter.
Pemerintah Sri Lanka juga memastikan pasokan energi tetap tersedia dengan menyiapkan pesanan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga Agustus. Selain itu, pemerintah telah mengatur kontrak pengadaan jangka panjang guna menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.
Direktur Pelaksana Ceylon Petroleum Corporation mengatakan bahwa negara tersebut masih memiliki stok bahan bakar yang cukup hingga akhir April. Ia menjelaskan bahwa perkiraan tersebut didasarkan pada pola konsumsi energi masyarakat saat ini.