Akademisi UNG Soroti Dampak Pembatasan Media Sosial

  • 13 Mar 2026 09:42 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Laksmin Kadir, menilai kebijakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait pengaturan dan pembatasan penggunaan media sosial memiliki dampak terhadap dunia pendidikan.

Laksmin mengatakan, secara prinsip pihaknya memahami dan mendukung kebijakan tersebut karena berkaitan erat dengan pembentukan perilaku atau behavior masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, perilaku seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yakni innate behavior yang berasal dari dalam diri individu serta adaptive behavior yang terbentuk dari pengaruh lingkungan luar, termasuk media digital dan media sosial.

“Pada intinya kami sepakat karena ini berhubungan dengan masalah perilaku. Ada perilaku yang berasal dari dalam diri dan ada yang terbentuk dari lingkungan luar, termasuk dari media yang kita konsumsi setiap hari,” ujar Laksmin Rabu 11 Maret 2026.

Meski demikian, ia menilai pembatasan penggunaan media sosial juga perlu mempertimbangkan kebutuhan dunia pendidikan yang saat ini semakin bergantung pada pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran.

Laksmin menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran, media digital kerap dimanfaatkan sebagai sumber referensi dan sarana edukasi bagi mahasiswa maupun peserta didik.

Menurutnya, ketertarikan generasi muda terhadap media digital saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode belajar konvensional seperti membaca buku.

“Kalau kita melihat realitas sekarang, ketertarikan anak-anak terhadap media digital jauh lebih besar dibandingkan dengan membaca buku. Karena itu dunia pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi bahkan telah menghadirkan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dapat membantu proses pembelajaran, mulai dari pencarian referensi hingga pengembangan materi edukasi.

Namun demikian, Laksmin juga mengakui bahwa penggunaan media sosial dan teknologi digital yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif, terutama jika digunakan secara berlebihan.

Ia menilai fenomena kecanduan media digital tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga mulai terlihat di kalangan orang dewasa.

“Sekarang tidak hanya anak-anak yang sering bermain game atau menggunakan media digital secara berlebihan. Bahkan orang dewasa juga banyak yang terlibat dalam aktivitas yang sama,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya kebijakan pengaturan penggunaan media sosial perlu diimbangi dengan edukasi literasi digital agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara lebih bijak dan produktif, terutama untuk mendukung proses pendidikan.

Rekomendasi Berita