Bulog Fakfak Akui Distribusi SPHP Sulit Jangkau Wilayah 3T
- 06 Mar 2026 11:53 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Kepala Bulog Cabang Fakfak, Ibrahim Wairoy, menjelaskan bahwa penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih menghadapi kendala untuk menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Hal tersebut disebabkan oleh tingginya biaya distribusi yang berdampak langsung pada pembentukan harga di daerah tersebut.
Menurut Ibrahim, ketentuan harga dalam program SPHP harus mengikuti batas harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan pemerintah. Sementara itu, biaya pengangkutan dan distribusi ke wilayah 3T cenderung jauh lebih tinggi dibandingkan daerah yang mudah dijangkau.
“Memang kita belum bisa menjangkau untuk hal-hal yang ini, karena SPHP ada ketentuan harga. Ketika biayanya di atas ketentuan itu, terutama di daerah 3T, pasti membutuhkan biaya lebih tinggi,” jelas Ibrahim.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat Bulog kesulitan menjaga harga tetap berada pada batas harga eceran tertinggi apabila distribusi dilakukan hingga wilayah yang sangat jauh. Pasalnya, biaya distribusi yang tinggi secara otomatis akan memengaruhi harga jual di tingkat masyarakat.
Karena itu, hingga saat ini Bulog Fakfak masih memprioritaskan penyaluran SPHP di wilayah yang secara distribusi masih dapat dijangkau dengan biaya yang relatif stabil. Dengan demikian, harga beras SPHP tetap bisa dijaga sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Meski demikian, Ibrahim menegaskan bahwa untuk komoditas lain seperti gula dan minyak goreng premium, distribusinya tidak terikat dengan skema subsidi seperti SPHP. Oleh karena itu, harga komoditas tersebut lebih mengikuti kondisi pasar yang berlaku di masing-masing daerah.
“Kalau gula dan minyak goreng ini kan tergantung kondisi pasar, karena bukan yang bersubsidi. Untuk daerah terluar tidak ada batasan harga, tetapi untuk daerah yang bisa kita jangkau tetap kita jaga agar harganya berada di bawah harga eceran tertinggi,” pungkasnya.