UNESCO Dorong Pemanfaatan AI Secara Etis pada World Radio Day 2026
- 13 Feb 2026 14:58 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – UNESCO mendorong stasiun radio di seluruh dunia memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara etis dan bertanggung jawab dalam momentum World Radio Day 2026. Informasi tersebut disampaikan melalui laman resmi United Nations (un.org).
UNESCO menyatakan radio saat ini berada pada fase transformasi. Teknologi AI dinilai dapat memperkuat fungsi utama radio dalam menginformasikan, mendidik, dan menghibur masyarakat. Otomatisasi tugas rutin seperti penjadwalan siaran, voice-tracking, pembaruan cuaca dan olahraga, serta alur kerja administratif memungkinkan tim penyiaran lebih fokus pada kreativitas dan interaksi dengan pendengar.
AI juga mendukung analisis audiens yang lebih mendalam, peningkatan relevansi iklan, serta pengalaman mendengar yang lebih personal. Perangkat terjemahan dan transkripsi membantu mengatasi hambatan bahasa sekaligus memperkuat penggunaan bahasa masyarakat adat dan kelompok minoritas yang kerap kurang terwakili di media arus utama. Selain itu, AI dapat meningkatkan proses verifikasi, validasi, dan penelusuran arsip guna menjaga kualitas konten, dengan tetap menempatkan penilaian manusia sebagai pusat pengambilan keputusan.
Meski demikian, UNESCO menekankan penggunaan AI harus disertai strategi yang matang. Lembaga penyiaran didorong menyusun kebijakan etika internal, melindungi privasi dan kepemilikan data, menjamin transparansi, serta berhati-hati dalam penggunaan audio generatif. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dan perlindungan hukum serta keamanan juga dinilai penting untuk mengantisipasi risiko baru.
Dalam rangka World Radio Day 2026, UNESCO menyediakan berbagai sumber daya gratis bagi stasiun radio, termasuk akses perangkat AI untuk penyiaran dan pelatihan AI tanpa biaya. Stasiun radio juga dapat mendaftarkan partisipasinya dalam peta resmi World Radio Day.
World Radio Day diperingati setiap 13 Februari. Hari ini diproklamasikan UNESCO pada 2011 dan disahkan Majelis Umum PBB pada 2012 melalui resolusi A/RES/67/124. Peringatan tersebut menandai berdirinya United Nations Radio pada 1946.
Menurut un.org, radio tetap menjadi medium yang paling luas dikonsumsi secara global. Dengan biaya relatif rendah, radio mampu menjangkau komunitas terpencil dan kelompok rentan, serta berperan penting dalam komunikasi darurat dan penanggulangan bencana.
Radio juga dinilai sebagai ruang demokratis yang memberi kesempatan bagi berbagai suara untuk didengar. Dengan merespons kebutuhan audiens dan tantangan sosial, radio berkontribusi memperkuat dialog publik dan kohesi masyarakat.