Mengapa Dunia Sepakat Tahun Baru 1 Januari

  • 28 Des 2025 11:16 WIB
  •  Ende

KBRN,Manggarai Barat: Perayaan Tahun Baru yang jatuh setiap 1 Januari bukanlah keputusan instan, melainkan hasil perjalanan sejarah panjang yang melibatkan peradaban kuno, kekaisaran Romawi, hingga penetapan kalender modern yang digunakan dunia saat ini.

Sejarah mencatat, perayaan Tahun Baru tertua berasal dari peradaban Babilonia Kuno sekitar 2000 sebelum Masehi. Saat itu, Tahun Baru dirayakan pada bulan baru pertama setelah ekuinoks musim semi, sekitar akhir Maret. Perayaan yang dikenal sebagai Festival Akitu ini menandai awal musim tanam dan pembaruan kehidupan sosial serta keagamaan.

Perubahan signifikan terjadi pada masa Kekaisaran Romawi. Awalnya, bangsa Romawi menetapkan bulan Maret sebagai awal tahun. Namun, sistem kalender yang digunakan kerap tidak sinkron dengan peredaran matahari.

Pada tahun 46 SM, Kaisar Julius Caesar melakukan reformasi kalender dengan memperkenalkan Kalender Julian. Dalam reformasi tersebut, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun untuk menghormati Janus, dewa Romawi yang melambangkan awal dan akhir. Penyesuaian besar juga dilakukan dengan menambahkan hari agar kalender kembali selaras dengan matahari.

Memasuki Abad Pertengahan, penetapan 1 Januari sempat ditinggalkan di Eropa. Para pemimpin Kristen menganggap tanggal tersebut bernuansa pagan, sehingga awal tahun digeser ke tanggal-tanggal religius seperti 25 Desember atau 25 Maret, tergantung wilayah.

Penetapan kembali 1 Januari sebagai Tahun Baru secara resmi dilakukan pada 1582 melalui Kalender Gregorian yang diperkenalkan Paus Gregorius XIII. Kalender ini memperbaiki kesalahan perhitungan Kalender Julian dan kemudian diadopsi secara luas oleh berbagai negara.

Kini, Kalender Gregorian menjadi sistem penanggalan yang paling banyak digunakan di dunia. Perayaan Tahun Baru pada 1 Januari pun menjadi simbol awal baru yang disepakati secara global, melampaui batas budaya dan agama.

Rekomendasi Berita