Pemkab SBT Optimalkan Pemanfaatan Lahan Pangan yang Mendukung Program MBG
- 05 Mar 2026 19:53 WIB
- Bula
RRI.CO.ID, Bula– Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku, mendorong optimalisasi pengelolaan lahan pangan yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus meningkatkan perekonomian daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten SBT Sofyan Waraiya, mengatakan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab membina para petani agar mampu menyediakan bahan pangan pokok maupun hortikultura untuk kebutuhan masyarakat.
“Sebagai pemerintah daerah yang tugasnya membina petani untuk penyediaan makanan pokok maupun hortikultura atau sayuran bagi kebutuhan makan bergizi gratis, tentu ada langkah-langkah yang akan kita ambil,” katanya.
Ia menjelaskan Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki potensi lahan pangan yang cukup besar, yakni lebih dari 18 ribu hektare yang hingga kini belum dikelola secara maksimal.
Menurut Sofyan, apabila lahan tersebut digarap secara optimal oleh petani, maka akan menjadi potensi besar dalam menggerakkan perekonomian daerah karena peluang pasarnya cukup terbuka.
“Lebih dari 18 ribu hektare lahan pangan belum dikelola maksimal. Jika ini digarap oleh petani, tentu menjadi potensi besar karena peluang pasar kita cukup terbuka,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan sektor pertanian tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan sayur-sayuran dalam mendukung program MBG yang saat ini masih dalam tahap uji coba di sejumlah sekolah.
Untuk komoditas pangan unggulan, kata Sofyan, beras masih menjadi kebutuhan utama masyarakat. Namun produksi beras di daerah itu hingga saat ini baru mampu memenuhi sekitar 18,5 persen dari kebutuhan daerah.
Selain beras, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan pangan lokal, terutama sagu yang memiliki potensi besar di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Sofyan menyebutkan luas potensi lahan sagu di daerah tersebut mencapai sekitar 35 ribu hektare sehingga dapat dikembangkan melalui program hilirisasi.
“Melalui hilirisasi sagu dapat diolah menjadi berbagai produk seperti tepung sagu, beras sagu hingga mi sagu yang dapat menjadi alternatif pangan selain beras,” katanya.
Menurut Sofyan, hingga saat ini ketersediaan pangan di Kabupaten Seram Bagian Timur masih mencukupi, meskipun program MBG mulai diuji coba di beberapa sekolah.
Ia optimistis ke depan tidak akan terjadi kekurangan stok pangan karena setiap daerah juga akan meningkatkan produksi guna mendukung program tersebut.
Di sisi lain, peluang pasar bagi hasil pertanian dari Kabupaten Seram Bagian Timur juga cukup terbuka ke sejumlah daerah di kawasan timur Indonesia.
“Pasar kita cukup terbuka, bisa ke Sorong, Timika, Fakfak bahkan sampai Weda selama ada transportasi kapal yang menjangkau daerah tersebut,” ujarnya.
Namun demikian, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi lonjakan harga di luar daerah yang berpotensi mendorong petani menjual hasil panennya keluar wilayah.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan cadangan pangan yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah, salah satunya di kawasan Breeding Center dengan luas sekitar 20 hektare.
Lahan tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai cadangan pangan daerah.
“Jika stok di pasar menipis, maka cadangan pangan ini dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi kebutuhan pangan, khususnya untuk program makan bergizi gratis di Kabupaten Seram Bagian Timur,” kata Sofyan.