Sensus Ekonomi 2026 Jadi Peta Baru Kekuatan Usaha

  • 13 Mar 2026 08:02 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Dalam rangka menjaga stabilitas harga bahan pangan menjelang Idul Fitri 1447 H, Pemerintah Kota Bukittinggi menggelar pertemuan strategis yang dirangkaikan dengan kegiatan monitoring harga pasar.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 di Ruang Rapat Utama Lantai III Balaikota Bukittinggi.

Pertemuan ini berlangsung dalam forum High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang membahas langkah-langkah konkret dan strategis dalam mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis. Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi, Abdi Gunawan.,SE.MM serta sejumlah unsur pemerintah daerah dan instansi terkait.

Dalam kesempatan tersebut, BPS juga memaparkan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan menjadi kegiatan pendataan ekonomi terbesar di Indonesia dan dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali.

Sensus Ekonomi Terbesar di Indonesia

Sensus Ekonomi bukanlah kegiatan baru. Pendataan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1986 dan kemudian dilanjutkan secara berkala setiap satu dekade, yaitu pada 1996, 2006, dan 2016. Tahun 2026 menjadi siklus berikutnya dalam upaya memotret kondisi perekonomian nasional secara menyeluruh.

Program yang dilaksanakan oleh BPS ini bertujuan menghasilkan data ekonomi yang terkini, akurat, dan komprehensif guna memetakan kekuatan ekonomi Indonesia secara lebih nyata.

Cakupan Pendataan Usaha

Sensus Ekonomi 2026 akan mencakup hampir seluruh lapangan usaha di Indonesia. Pendataan meliputi sektor pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, serta berbagai aktivitas jasa seperti jasa keuangan dan kesehatan.

Namun terdapat tiga kategori usaha yang tidak termasuk dalam sensus ini, yakni sektor pertanian, administrasi pemerintahan, dan aktivitas rumah tangga.

Jadwal Pelaksanaan

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 akan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan menjangkau berbagai skala usaha, mulai dari usaha kecil hingga perusahaan besar.

Metode pendataan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah pengisian kuesioner secara daring atau Computer Assisted Web Interviewing (CAWI) yang berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026. Perusahaan skala besar akan menerima undangan melalui email untuk mengisi data secara mandiri. Selain itu, akan diselenggarakan kegiatan “Ngisi Bareng” (Ngibar) yang melibatkan berbagai instansi dan dinas terkait.

Tahap kedua adalah pendataan lapangan yang dilaksanakan pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Pada periode ini, petugas sensus akan mendatangi langsung lokasi usaha secara door-to-door untuk mendata usaha yang belum terjangkau oleh metode pengisian online.

Menjawab Isu Strategis Ekonomi

Melalui Sensus Ekonomi 2026, pemerintah berharap dapat menjawab berbagai isu strategis dalam perkembangan ekonomi nasional. Di antaranya adalah penyusunan peta perekonomian wilayah yang lebih akurat, identifikasi persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha, serta pengukuran daya saing sektor bisnis.

Selain itu, sensus ini juga akan memotret fenomena ekonomi baru seperti ekonomi digital dan ekonomi berbasis lingkungan. Peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional juga akan dianalisis secara lebih mendalam.

Manfaat bagi Berbagai Pihak

Data yang dihasilkan dari Sensus Ekonomi 2026 diharapkan memberikan manfaat luas bagi berbagai pihak. Bagi pemerintah, data tersebut menjadi dasar perencanaan dan evaluasi kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran.

Sementara bagi pelaku bisnis, hasil sensus dapat menjadi referensi dalam menyusun strategi usaha, membaca peluang pasar, serta memahami tren investasi. Kalangan akademisi juga dapat memanfaatkan data tersebut sebagai sumber penelitian dan kajian ekonomi.

Masyarakat pun diharapkan memperoleh manfaat melalui meningkatnya transparansi data ekonomi serta perbaikan ekosistem ekonomi nasional untuk mendukung pencapaian target pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Tiga Pilar Data Utama

Secara garis besar, Sensus Ekonomi 2026 akan menghasilkan data dalam tiga pilar utama. Pertama, struktur ekonomi yang menggambarkan kondisi usaha berdasarkan wilayah, skala usaha, dan lapangan usaha.

Kedua, karakteristik usaha yang mencakup aspek permodalan, kinerja usaha, daya saing, serta berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha, termasuk hambatan investasi.

Ketiga, indikator ekonomi digital dan ekonomi lingkungan, termasuk perkembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru yang kini menjadi perhatian global.

Melalui pelaksanaan sensus ini, pemerintah berharap memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi perekonomian Indonesia, sehingga kebijakan pembangunan dapat dirumuskan secara lebih tepat, efektif, dan berkelanjutan. (JM/RRI BKT)

Rekomendasi Berita