Skandal Keluarga dan Kesehatan, Ujian Berat Pemerintahan Raja Charles III
- 22 Feb 2026 20:47 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Skandal keluarga kembali mengguncang monarki Inggris setelah penangkapan Pangeran Andrew pada Kamis, 19 Februari 2026, menambah daftar persoalan yang membayangi pemerintahan Raja Charles III. Peristiwa ini menjadi ujian paling serius sejak Charles naik takhta pada September 2022 lalu.
Sejak naik takhta menggantikan ibunya, Ratu Elizabeth II, pada September 2022, Raja Charles III memang belum sepenuhnya menikmati masa transisi yang tenang. Harapan akan kesinambungan dan stabilitas yang tercermin dalam penobatannya pada Mei 2023 perlahan dibayangi serangkaian krisis keluarga dan persoalan kesehatan.
Di awal pemerintahannya, sorotan tajam datang dari putra bungsunya, Pangeran Harry, melalui memoar kontroversial berjudul Spare. Buku tersebut membuka berbagai konflik internal keluarga kerajaan ke ruang publik global dan memperdalam jarak antara Harry dengan institusi yang telah lama dianggap kokoh.
Belum reda polemik itu, publik dikejutkan oleh kabar kesehatan sang raja pada awal 2024. Charles mengumumkan dirinya menjalani perawatan kanker, disusul beberapa pekan kemudian oleh pernyataan Catherine, Princess of Wales yang juga tengah menjalani pengobatan penyakit serupa. Meski keduanya kini dilaporkan menunjukkan perkembangan positif, bayang-bayang penyakit tetap memengaruhi citra dan aktivitas keluarga kerajaan.
Namun, badai terbesar datang dari sosok adiknya, Pangeran Andrew, yang terseret kembali dalam pusaran kontroversi lama terkait hubungannya dengan terpidana pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein. Kasus tersebut telah lama menjadi noda bagi monarki, terutama setelah beredarnya foto Andrew bersama Virginia Giuffre pada 2011 yang memicu kecaman luas.
Upaya Charles sebelumnya untuk menjaga jarak dengan mencabut gelar dan peran resmi sang adik ternyata belum cukup meredam krisis. Penangkapan Andrew atas dugaan pelanggaran hukum saat menjabat utusan dagang Inggris pada periode 2001–2011 menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern keluarga kerajaan Inggris. Peristiwa ini langsung memicu gelombang reaksi publik dan mempertanyakan integritas institusi.
Sejumlah pengamat menilai situasi ini sebagai titik krusial bagi masa depan monarki. Krisis yang terjadi mengingatkan pada guncangan besar di masa lalu, seperti pengunduran diri Edward VIII pada 1936 maupun wafatnya Putri Diana pada 1997, dua peristiwa yang sempat menggerus kepercayaan publik selama bertahun-tahun.
Kini, di tengah tekanan internal dan eksternal, Charles dihadapkan pada tantangan untuk memulihkan otoritas moral dan memperkuat kembali kepercayaan masyarakat terhadap monarki. Banyak pihak menilai bahwa pembaruan nyata dan langkah tegas menjadi kunci agar institusi yang telah berusia ratusan tahun itu mampu bertahan di tengah perubahan zaman dan sorotan publik yang semakin tajam.