Hari Nol Toleransi FGM, Diperingati 6 Februari 2026

  • 05 Feb 2026 15:00 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – 6 Februari 2026 diperingati sebagai International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation (FGM) atau Hari Nol Toleransi terhadap Mutilasi Genital Perempuan. Peringatan ini menjadi momentum global untuk menegaskan komitmen penghapusan praktik FGM menjelang target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

FGM merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi serta kesejahteraan perempuan dan anak perempuan. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 230 juta perempuan dan anak perempuan yang hidup saat ini merupakan penyintas FGM, dengan sekitar 4 juta anak perempuan terdampak praktik tersebut setiap tahun.

Selain itu, diperkirakan 4,5 juta anak perempuan, banyak di antaranya berusia di bawah lima tahun, berada dalam kondisi berisiko menjalani FGM. Jika tren saat ini berlanjut, hingga 22,7 juta anak perempuan tambahan diproyeksikan akan terdampak pada tahun 2030.

FGM juga menimbulkan dampak kesehatan fisik dan mental jangka panjang bagi para penyintas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat praktik ini menyebabkan beban ekonomi global, dengan biaya penanganan komplikasi kesehatan akibat FGM diperkirakan mencapai setidaknya USD 1,4 miliar setiap tahun.

Menjelang 2030, kemajuan penghapusan FGM dinilai berada pada titik kritis. Keterbatasan sumber daya, pemotongan pendanaan, serta menurunnya investasi di sektor kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak berpotensi melemahkan upaya pencegahan yang telah dibangun selama beberapa dekade.

Organisasi perempuan dan pemuda berbasis komunitas memiliki peran penting dalam mengubah norma sosial dan gender. Namun, ketidakpastian pendanaan dinilai dapat membatasi keberlanjutan program pencegahan serta layanan pendukung bagi anak perempuan yang berisiko dan para penyintas.

Mengusung tema “Towards 2030: No End To FGM Without Sustained Commitment and Investment”, peringatan Hari Nol Toleransi FGM 2026 menekankan pentingnya komitmen politik, sistem yang kuat, pendanaan berkelanjutan, aksi komunitas, serta pemanfaatan data dan bukti. Keterlibatan suara anak perempuan dan penyintas juga menjadi bagian penting dalam percepatan penghapusan FGM.

Melalui UNFPA–UNICEF Joint Programme on the Elimination of FGM, komunitas internasional diajak memperkuat kerja sama lintas sektor. Pendekatan multisektoral dinilai menjadi kunci untuk mencegah FGM, melindungi hak anak perempuan, serta memastikan layanan yang berpusat pada penyintas.

Peringatan Hari Nol Toleransi FGM turut disertai seruan global melalui kampanye #EndFGM dan #Invest2EndFGM. Dengan waktu menuju 2030 yang semakin terbatas, aksi kolektif dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga capaian dan mempercepat penghapusan praktik FGM di seluruh dunia.

Rekomendasi Berita