Pemda Supiori Usulkan Pelabuhan Yanggarbun Hub Transportasi Pulau-Terluar
- 16 Jul 2025 08:37 WIB
- Biak
KBRN, Supiori : Pemerintah Kabupaten Supiori berencana mengusulkan pelabuhan Yanggarbun di Sabarmiokre sebagai pelabuhan hub atau pusat transit kapal-kapal yang menuju ke pulau-pulau terluar Papua. Usulan ini disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, khususnya Direktur Pelabuhanan, di Jakarta, pekan lalu.
Kondisi geografis Pulau Mapia dan Miosbefondi yang terletak di wilayah terluar Papua memerlukan sistem transportasi laut yang lebih baik. Kedua pulau ini berada di bawah administrasi pemerintahan Distrik Supiori Barat yang berkedudukan di Sabarmiokre, lokasi pelabuhan Yanggarbun berada.
Fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sangat minim di kedua pulau tersebut, khususnya bidang kesehatan hanya terdapat Puskesmas Pembantu dengan sistem rujukan, dan fasilitas pendidikan hanya tersedia sekolah dasar. Hal ini menjadi penting ketersediaan sarana pendukung seperti kapal perintis yang melayani rute Yanggarbun-Miosbefondi-Mapia, baik untuk distribusi logistik maupun sebagai sarana pendistribusian Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) ke daerah terluar.
Kepala Dinas Perhubungan Supiori, Albert Rahalus, menjelaskan bahwa pelabuhan Yanggarbun akan menjadi pintu gerbang utama menuju Pulau Meosbepondi dan Pulau Mapia, serta pulau-pulau lain di Papua.
"Dalam dua bulan terakhir ini, banyak penumpang yang datang dan naik dari pelabuhan Yanggarbun. Seperti kegiatan pemuda se-Papua dari Gereja Bethel Indonesia di Maudori yang dilaksanakan bulan Juni kemarin, penumpang yang turun hampir sekitar delapan ratus orang," ujar Albert.
Ia menambahkan, beberapa warga jemaat GPDI yang melaksanakan kegiatan di Jayapura juga menggunakan kapal Sabuk Nusantara 64, 94, dan 61 dari Jayapura melalui pelabuhan Yanggarbun.
Pemda Supiori melalui Dinas Perhubungan akan menjadikan pelabuhan Yanggarbun sebagai pelabuhan hub khusus untuk melayani dua pulau terluar. Pemilihan lokasi ini sangat strategis karena pelabuhan Yanggarbun di Sabarmiokre dekat dengan ibukota distrik yang memiliki fasilitas kesehatan memadai seperti puskesmas rawat inap dan fasilitas pendidikan seperti SMP dan SMA berpola asrama.
"Dengan fasilitas yang ada, hal ini dapat memudahkan pelayanan dari Sabarmiokre melalui pelabuhan Yanggarbun ke Miosbefondi dan Mapia," ucap Albert.
Melalui audiensi yang dilakukan, diharapkan tiga kapal Sabuk Nusantara yang berada di Biak dapat menyinggahi selain pelabuhan Korido di bagian selatan, juga pelabuhan Yanggarbun di bagian barat Supiori menuju Mapia dan Sabarmiokre setiap minggunya.
Kebijakan ini sejalan dengan peraturan pemerintah tentang sistem transportasi nasional, khususnya ke daerah-daerah 3TP (Tertinggal, Terpencil, Terluar) dan perbatasan.
Albert menekankan bahwa dalam dua bulan terakhir, Pemda Supiori juga diminta memfasilitasi masyarakat, khususnya warga gereja, untuk melakukan wisata rohani ke beberapa tempat di luar Biak dan Supiori dengan menggunakan fasilitas kapal Sabuk Nusantara yang berpangkalan di Biak.
Untuk masyarakat atau gereja yang akan melakukan kunjungan wisata rohani keluar Supiori, Albert meminta agar sebulan sebelumnya dapat menyurat kepada Bupati melalui Dinas Perhubungan.
"Selanjutnya kami melakukan komunikasi atau menyurat ke Gubernur, dan dari surat Gubernur dilanjutkan ke Dirjen Perhubungan Laut untuk mendapat kepastian tanggal dan waktu kapal akan melakukan pelayanan," kata Albert.
Pelayanan akan dilakukan dari pelabuhan Yanggarbun maupun pelabuhan Korido ke tempat tujuan warga jemaat yang akan melakukan wisata rohani.
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT. Pelni, Nuraini Dessy Winiastuty menegaskan bahwa untuk kapal perintis, tidak ada masalah karena spesifikasi kapal memungkinkan untuk menyinggahi pelabuhan-pelabuhan kecil.
"Kalau yang perintis, karena dari spek pelabuhan juga tidak terlalu besar, spek kapalnya memungkinkan untuk menyinggahi pelabuhan-pelabuhan kecil. Jadi kalau yang perintis, harapannya dari Supiori menyampaikan ke pusat," katanya.
Wanita yang akrab disapa Desi, berharap frekuensi pelayanan dapat ditingkatkan dengan memaksimalkan tiga kapal yang ada di wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar rute antar kapal seperti rute Sabuk 63, 94, dan kapal swasta tidak terlalu sama, tetapi frekuensinya justru ditambah.
"Misalnya ke Mapia yang awalnya dua minggu sekali menjadi satu minggu. Kasihan kebutuhan masyarakat di sana kalau dua minggu sekali membawa kapal," kata Desi.
Dia menambahkan, PT Pelni sebagai operator siap mendengar usulan untuk menambah rute perintis ke wilayah Mapia.
"Kami siap mendukung apapun yang diberikan Kementerian Pusat kepada kami. Namun kalau kapal putih, ini yang agak sedikit PR, karena dengan keterbatasan armada saat ini, kami menganut sistem liner dua mingguan," ujar Desi.