Fenomena Hapus Tiktok Naik 150 Persen

  • 30 Jan 2026 07:18 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Beberapa hari terakhir fenomena pengguna media sosial TikTok mulai menghapus aplikasi dan meninggalkan platform ini tengah ramai diperbincangkan pengguna internet di berbagai negara. Banyak pihak melihat tren ini berkaitan erat dengan isu perubahan kepemilikan saham dan kendali operasional TikTok di pasar global.

Dikutip dari The Times of India, TikTok yang sebelumnya dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan teknologi asal China, ByteDance, kini telah mengalami restrukturisasi kepemilikan di beberapa wilayah, khususnya di Amerika Serikat. Kesepakatan yang resmi ditutup pada 22 Januari 2026 memindahkan operasional TikTok AS ke sebuah entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC, dengan mayoritas saham kini dimiliki oleh investor Amerika dan internasional, termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX, sementara ByteDance hanya mempertahankan porsi minoritas kurang dari 20 persen.

Langkah ini dilakukan untuk mematuhi undang‑undang AS yang menekan perusahaan teknologi asing agar menyerahkan kontrol data lokal kepada pihak domestik. Meski demikian, perubahan ini memicu berbagai tanggapan di kalangan pengguna.

Beberapa laporan menunjukkan gelombang pengguna TikTok menghapus aplikasi mereka setelah perubahan kepemilikan diumumkan. Di AS, angka penghapusan aplikasi dilaporkan meningkat signifikan, bahkan mencapai lonjakan sekitar 150 persen dalam beberapa hari terakhir.

Selain itu, platform ini juga menghadapi tantangan teknis seperti gangguan sistem dan klaim sensor konten, yang memperburuk suasana ketidakpercayaan. Isu tersebut termasuk tuduhan bahwa konten politik tertentu mengalami pembatasan sejak perubahan struktur kepemilikan.

Perubahan kepemilikan ini juga membuka peluang bagi aplikasi pesaing seperti UpScrolled yang mencatat pertumbuhan unduhan signifikan di AS setelah pergantian besar TikTok.

Selain isu kepemilikan saham, sejumlah pengguna menyebut alasan lain berhenti menggunakan TikTok adalah kekhawatiran soal privasi data, serta perubahan pengalaman pengguna setelah update algoritma dan aturan baru. Hal ini membuat beberapa kreator konten dan audiens mulai mencari alternatif seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, atau platform lokal lainnya.

Perubahan kepemilikan ini menunjukkan tekanan regulasi global terhadap perusahaan teknologi besar, terutama yang berkaitan dengan data dan keamanan nasional. Bagi TikTok sendiri, langkah ini diharapkan bisa menjaga keberlangsungan operasi di pasar besar seperti Amerika Serikat, namun dampaknya terhadap loyalitas pengguna masih menjadi tantangan.

Para analis media sosial menyatakan bahwa keputusan pengguna untuk menghapus aplikasi bisa jadi merupakan sinyal penting tentang kepercayaan dan preferensi digital masyarakat di era di mana isu privasi dan kendali data menjadi sorotan utama.

Rekomendasi Berita