BP Batam Rencanakan Deselinasi Untuk Ketersediaan Air Jangka Panjang

  • 13 Mar 2026 11:50 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - BP Batam mulai menyiapkan berbagai alternatif sumber air untuk memastikan ketersediaan air bersih di Kota Batam dalam jangka panjang. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pemanfaatan teknologi desalinasi air laut, yakni proses pengolahan air laut menjadi air tawar yang layak digunakan.

Rencana pembangunan fasilitas desalinasi tersebut membutuhkan investasi yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp3 triliun dengan kapasitas produksi air mencapai sekitar 2.600 liter per detik.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan ketergantungan pada waduk membuat ketersediaan air di Batam sangat dipengaruhi oleh curah hujan serta kondisi lingkungan di daerah tangkapan air. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan sumber air alternatif sebagai langkah antisipasi di masa depan.

“Kami sedang mempelajari kemungkinan pembangunan fasilitas desalinasi untuk mengolah air laut menjadi air bersih. Ini menjadi salah satu opsi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat maupun industri,” ujarnya dalam dialog Batam Menyapa di Radio Republik Indonesia Batam, Kamis, 12 Maret 2026.

Meski demikian, biaya produksi air dari proses desalinasi tergolong cukup tinggi. Dalam perhitungan awal, biaya produksi air melalui teknologi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp28.000 hingga Rp30.000 per meter kubik.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi air dari waduk yang selama ini digunakan. Oleh karena itu, BP Batam masih terus mengkaji skema investasi yang memungkinkan, termasuk melalui kerja sama dengan pihak swasta.

Teknologi desalinasi sendiri telah digunakan secara luas di berbagai negara yang memiliki keterbatasan sumber air tawar. Negara seperti Singapura, Uni Emirat Arab, hingga Turki telah memanfaatkan teknologi ini untuk memenuhi kebutuhan air masyarakatnya.

Melalui berbagai rencana tersebut, BP Batam berharap kebutuhan air bersih bagi masyarakat maupun sektor industri dapat terpenuhi secara berkelanjutan di masa depan.

"Langkah ini dipandang penting mengingat Batam tidak memiliki sumber air alami seperti sungai besar maupun mata air. Selama ini, kebutuhan air bersih masyarakat sepenuhnya bergantung pada waduk yang menampung air hujan sebelum diolah dan didistribusikan kepada pelanggan," katanya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita