Krisis Pasokan LNG Ancam Energi Singapura dan Asia
- 12 Mar 2026 21:57 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Krisis pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) mulai dirasakan di kawasan Asia setelah sejumlah perusahaan energi global mengeluarkan pemberitahuan force majeure. Kondisi ini berpotensi memaksa Singapore mengambil langkah stabilisasi pasokan energi yang selama ini menjadi sumber utama pembangkit listrik di negara tersebut.
Beberapa pemasok LNG global, termasuk Shell, mengeluarkan pemberitahuan kepada pelanggan di Asia terkait kondisi tak terduga yang menghambat pemenuhan kontrak pengiriman LNG. Laporan media internasional menyebutkan bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi jalur distribusi energi dunia.
Sebelumnya, perusahaan energi milik Qatar, QatarEnergy, menghentikan operasi di fasilitas ekspor LNG terbesar dunia, yakni Ras Laffan LNG Plant di Qatar, setelah fasilitas tersebut terdampak serangan di tengah konflik regional. Penutupan tersebut berdampak besar karena fasilitas Ras Laffan merupakan salah satu pusat produksi LNG terbesar di dunia.
Situasi semakin kompleks setelah jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz praktis tertutup akibat meningkatnya konflik militer antara Iran dan koalisi United States serta Israel sejak akhir Februari 2026. Selat ini merupakan jalur penting yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan hampir 19 persen pasokan LNG global.
Penutupan jalur tersebut berdampak langsung terhadap pengiriman LNG menuju Asia. Firma riset energi Wood Mackenzie memperkirakan sekitar 1,5 juta ton LNG per minggu hilang dari pasar global, setara dengan hampir 19 persen ekspor LNG dunia.
Bagi Singapura, dampak gangguan ini cukup signifikan. Negara tersebut mengimpor sekitar 6,7 juta ton LNG pada 2024 berdasarkan data dari Energy Market Authority. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Timur Tengah, termasuk kontrak pasokan LNG dari Qatar yang sebelumnya dimiliki oleh Pavilion Energy sebelum diakuisisi Shell pada 2025.
Sumber industri menyebutkan sekitar 15 hingga 20 persen impor LNG Singapura berasal dari Timur Tengah. Gangguan pasokan dari kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi sekaligus mempersulit negara-negara Asia mendapatkan pasokan alternatif.
Selain faktor geopolitik, gangguan logistik juga memperburuk kondisi. Layanan analisis pelayaran Lloyd’s List melaporkan sedikitnya 17 kapal pengangkut LNG masih terjebak di kawasan Teluk Persia akibat penutupan jalur pelayaran. Sementara sejumlah kapal kosong yang dijadwalkan mengangkut LNG dari negara-negara Teluk terpaksa menunggu di luar Selat Hormuz.
Di tengah situasi tersebut, negara-negara Asia kini berlomba mendapatkan kargo LNG dari negara lain seperti Amerika Serikat dan Nigeria. Permintaan tinggi membuat harga LNG melonjak di pasar internasional.
Menteri Energi Singapura, Tan See Leng, menyatakan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi. Singapura memiliki cadangan bahan bakar yang terdiri dari gas dan diesel yang dapat digunakan oleh perusahaan pembangkit listrik jika terjadi gangguan pasokan yang parah.
Namun demikian, ukuran cadangan energi tersebut tidak dipublikasikan. Para analis memperkirakan rantai pasokan LNG global akan semakin kompleks jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Dalam kondisi tersebut, Singapura kemungkinan harus memanfaatkan cadangan energi strategisnya jika situasi di Timur Tengah tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan.