Ancaman Iran: Harga Minyak Bisa Tembus 200 Dolar per Barel

  • 12 Mar 2026 07:50 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global setelah Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 200 dolar per barel. Ancaman itu muncul setelah pasukan Iran menembaki kapal dagang di Teluk pada Rabu, di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dikutip dari Reuters, Iran menegaskan bahwa instabilitas keamanan di kawasan dapat berdampak langsung terhadap pasar energi dunia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.

Ia menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang memicu ketidakstabilan regional. “Bersiaplah harga minyak mencapai 200 dolar per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi,” kata Zolfaqari dalam pernyataannya yang ditujukan kepada Washington.

Ketegangan meningkat setelah pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki dua kapal dagang yang melintas di Teluk karena dianggap tidak mematuhi perintah mereka. Salah satu kapal pengangkut barang curah berbendera Thailand dilaporkan terbakar setelah terkena serangan.

Insiden tersebut memaksa awak kapal melakukan evakuasi darurat. Tiga orang dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin kapal yang terbakar. Reuters menyebut pihaknya belum dapat memverifikasi insiden kedua yang melibatkan kapal berbendera Liberia.

Serangan terhadap kapal dagang ini menambah daftar kapal komersial yang terdampak konflik sejak perang dimulai menjadi sedikitnya 14 kapal. Situasi ini semakin memperparah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia kini berada dalam kondisi tidak aman. Kondisi tersebut disebut sebagai gangguan pasokan energi paling serius sejak krisis minyak pada era 1970-an.

Sementara itu, Badan Energi Internasional merekomendasikan pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global untuk menstabilkan harga. Meski demikian, para analis menilai langkah tersebut hanya mampu menutup sebagian kecil dari pasokan yang terganggu akibat situasi di Selat Hormuz.

Rekomendasi Berita