Perang Timur Tengah Picu Kenaikan Tarif Maskapai Asia
- 11 Mar 2026 20:17 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Maskapai penerbangan di kawasan Asia-Pasifik mulai menaikkan tarif penerbangan seiring melonjaknya harga bahan bakar pesawat akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah maskapai besar seperti Qantas, Air India, dan Cathay Pacific telah mengumumkan atau berencana menaikkan harga tiket untuk menyesuaikan dengan meningkatnya biaya operasional.
Lonjakan harga bahan bakar penerbangan menjadi pemicu utama kebijakan tersebut. Berdasarkan indeks acuan S&P Global Platts, harga rata-rata bahan bakar aviasi dunia mencapai US$173,91 per barel pada 9 Maret 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan harga pada Januari dan bahkan melampaui harga minyak mentah.
Menurut International Air Transport Association (IATA), tingginya harga tersebut tidak hanya disebabkan oleh biaya penyulingan, tetapi juga karena bahan bakar pesawat (kerosin) sering menjadi prioritas lebih rendah dibandingkan produksi bensin atau solar di kilang minyak.
Situasi semakin diperparah oleh konflik yang mengganggu jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, salah satu jalur vital distribusi minyak dunia. Jalur ini biasanya membawa hampir 20 persen produksi minyak global. Dampaknya sangat terasa bagi kawasan Asia, karena lebih dari 80 persen minyak dan gas yang melewati selat tersebut ditujukan untuk pasar Asia, menurut U.S. Energy Information Administration.
Dalam pernyataan resminya pada 10 Maret, Air India menyebut harga aviation turbine fuel (ATF)—yang menyumbang hampir 40 persen biaya operasional maskapai—mengalami kenaikan tajam akibat gangguan pasokan. Maskapai tersebut mengumumkan kenaikan biaya tambahan (fuel surcharge) yang akan diberlakukan secara bertahap.
Mulai 12 Maret, Air India menambahkan sekitar US$4,30 untuk penerbangan domestik dan US$20 untuk rute Asia Tenggara. Sementara mulai 18 Maret, biaya tambahan untuk penerbangan ke Eropa meningkat 25 persen menjadi US$125, dan untuk Amerika Utara naik 33 persen menjadi US$200.
Langkah serupa juga diambil oleh Cathay Pacific yang pada 11 Maret mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar setelah harga bahan bakar jet meningkat dua kali lipat dibandingkan rata-rata dua bulan sebelumnya.
Di Australia, Qantas menyatakan akan menaikkan tarif penerbangan yang bervariasi tergantung rute. Maskapai tersebut mencatat biaya bahan bakar jet meningkat hingga 150 persen dalam dua pekan terakhir, meskipun perusahaan telah menerapkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi harga.
Sementara itu, Direktur Keuangan Thai Airways Rut Rugsumruad mengatakan maskapai berpotensi menaikkan tarif tiket hingga 10–15 persen jika harga bahan bakar terus meningkat. Namun untuk sementara, harga tiket masih dipertahankan sambil memantau kondisi pasar.
Kenaikan harga bahan bakar juga memicu kekhawatiran di industri penerbangan global. Pendiri maskapai berbiaya rendah SpiceJet, Ajay Singh, bahkan memperingatkan bahwa harga minyak sekitar US$90 per barel saja sudah tidak berkelanjutan bagi industri penerbangan.
Jika harga energi terus melonjak, para analis memperkirakan dampak penuh terhadap tarif penerbangan global baru akan terasa dalam tiga hingga enam bulan ke depan, terutama pada rute internasional jarak jauh.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya industri penerbangan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga energi, yang dapat langsung mempengaruhi biaya operasional maskapai serta harga tiket yang harus dibayar penumpang di seluruh dunia.