Fenomena Kata Kasar dalam Debat Jadi Sorotan
- 13 Mar 2026 11:22 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID,Banjarmasin- Fenomena debat tidak sehat yang ditandai dengan penggunaan kata-kata kasar, caci maki, hingga ujaran kebencian semakin menjadi sorotan di media sosial maupun ruang publik. Kondisi ini dinilai menggeser esensi debat dari adu gagasan dan argumentasi menjadi serangan personal.
“Debat tidak sehat terlihat saat satu pihak terlalu menguasai pembicaraan, emosi lebih menonjol daripada logika, dan bahasa yang digunakan bersifat toxic,” ujar Ridha Nazharullah, M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, kepada RRI Banjarmasin pada Jumat, 13 Maret 2026.
Menurut Ridha, kata-kata kasar dalam perdebatan dipengaruhi lingkungan pergaulan dan media sosial. Polarisasi politik (perpecahan tajam antara kelompok yang berlawanan) serta rendahnya kesadaran etika komunikasi juga memicu fenomena tersebut. Kondisi ini dapat merusak hubungan antarindividu dalam masyarakat.
Selain itu, penggunaan kata-kata kasar berpotensi menormalisasi perilaku buruk dalam perdebatan. Dampaknya, kualitas debat publik pun menurun dan kurang produktif.
“Perspektif etika dan agama juga menekankan bahwa penggunaan kata kasar dalam debat adalah tidak etis dan sebaiknya dihindari,” ujar Ridha.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk mengendalikan emosi saat berdebat dan menghindari lingkungan yang membiasakan penggunaan bahasa kasar. Ia juga mengingatkan agar tujuan perdebatan tidak sekadar untuk menang, tetapi untuk mencari kebenaran bersama.
“Debat yang sehat seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan dan memperkaya sudut pandang. Bukan untuk menjatuhkan pihak lain dengan kata-kata menyakitkan,” ujar Ridha.