Garut Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Basah
- 25 Feb 2026 14:49 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Garut - Sejumlah peristiwa longsor kembali terjadi di Kabupaten Garut dalam beberapa pekan terakhir. Bencana tersebut dipicu tingginya intensitas curah hujan yang masih melanda sebagian besar wilayah setempat.
Longsor terbaru dilaporkan terjadi di sejumlah titik di wilayah Garut Selatan. Salah satu yang terdampak cukup serius berada di Kecamatan Banjarwangi, di mana material longsoran menutup akses jalan kabupaten dan jalan desa sehingga mengganggu aktivitas warga.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Aah Anwar Saepuloh, menyatakan bahwa saat ini Garut masih berstatus siaga darurat bencana hidrometeorologi basah. Status tersebut diperkirakan berlangsung hingga 30 April 2026.
"Saat ini curah hujan tinggi sudah memasuki fase puncaknya sebelum berakhir pada 30 April 2026 mendatang," kata Aah Anwar Saepuloh di Garut, Rabu 25 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada musim Lebaran tahun lalu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat melakukan rekayasa cuaca untuk menekan intensitas hujan. Namun, pada tahun ini kondisi cuaca telah kembali normal tanpa intervensi modifikasi cuaca.
"BNPB sebelumnya sempat melakukan rekayasa cuaca untuk mengurangi tingginya intensitas curah hujan, namun tahun ini sudah kembali normal. Sehingga curah hujan masih tinggi karena sedang dalam masa puncaknya," ujarnya.
Menurutnya, di tengah curah hujan yang masih tinggi, potensi bencana lokal seperti banjir dan longsor tetap ada. Meski demikian, hingga saat ini kejadian yang muncul di sejumlah wilayah, baik Garut Utara maupun Garut Selatan, masih dapat ditangani dengan baik.
"Banjir dan longsor sempat terjadi di sejumlah daerah baik di Garut Utara maupun Selatan, namun Alhamdulillah hingga saat ini masih bisa diatasi dan dalam kondisi aman," katanya.
Aah menambahkan, sejumlah infrastruktur yang terdampak bencana seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, secara bertahap telah diperbaiki. Perbaikan dilakukan dengan melibatkan berbagai institusi teknis terkait agar akses masyarakat segera kembali normal.
"Ada beberapa fasilitas infrastruktur seperti jalan dan jembatan atau bangunan lainnya yang rusak akibat longsor atau banjir kini sudah diperbaiki," tuturnya.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Garut, ia mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan longsor seperti perbukitan dan lereng gunung, agar meningkatkan kewaspadaan. Tingginya intensitas hujan dinilai masih berpotensi memicu pergerakan tanah sewaktu-waktu.
"Mayoritas warga di Garut Selatan kebanyakan mendiami tanah rawan longsor seperti di perbukitan atau lereng gunung, maka diperlukan ekstra hati-hati atau waspada saat intensitas hujan tinggi," ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan alih fungsi lahan di zona rawan longsor. Aktivitas tersebut dinilai dapat memperbesar risiko terjadinya bencana, termasuk banjir dan longsor.
"Kami juga melarang warga untuk membuat embung-embung atau penampungan air berupa kolam di tanah labil seperti di lereng pegunungan atau perbukitan yang curam, itu juga sangat rawan terhadap terjadinya bencana," katanya.