Antologi Puisi 'Dari Sahabat', Jejak Persahabatan Dua Bangsa
- 29 Okt 2025 12:37 WIB
- Bandung
KBRN,Bandung: Dalam semangat Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, SMK Pasundan 3 Cimahi meluncurkan buku antologi puisi bertajuk ‘Dari Sahabat’, sebuah karya kolaboratif lintas negara yang merayakan persahabatan Indonesia-Malaysia melalui jalur pendidikan. Buku ini menjadi penanda penting dalam diplomasi budaya antar pelajar dan guru, sekaligus wujud nyata dari semangat serumpun yang terus tumbuh.
Kepala Sekolah SMK Pasundan 3 Cimahi, Subaryo, disela sela kegiatan peluncuran buku mengungkapkan bahwa kerja sama ini telah berakar sejak 2017. Bermula dari pertemuan informal antara guru-guru Indonesia dan Malaysia.
“Kami sering ngopi bareng, baik di Jakarta maupun Bandung. Dari sana, komunikasi berkembang hingga akhirnya kami saling kunjung ke Batu Pahat, Johor, dan Kuala Lumpur,” tuturnya. Rabu (29/10/2025).
Antologi ‘Dari Sahabat’ bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah hasil proses kreatif yang melibatkan 24 pelajar dan enam guru dari Indonesia, serta mitra dari Kolej Vokasional Tanjung Putri Malaysia.
“Bagi sekolah teknik seperti mereka, menulis puisi adalah hal baru. Tapi semangat mereka luar biasa. Ini pertama kalinya puisi mereka dibukukan dan dibaca oleh dua bangsa,” ujar Subaryo.
Baca juga : Presiden: Pemuda Jangan Takut Bermimpi
Proses penulisan dimulai sejak Agustus, dengan tema utama “persahabatan”. Puisi-puisi yang terpilih dinilai memiliki kualitas sastra yang tinggi dan mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, kepercayaan diri, dan harapan masa depan.
Peluncuran buku ini sengaja dipilih bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. “Bahasa adalah identitas. Melalui puisi, kami ingin memartabatkan Bahasa Indonesia di kancah internasional,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini bukan satu-satunya bentuk kolaborasi. SMK Pasundan 3 Cimahi aktif mengikuti lomba-lomba inovasi pembelajaran dan teknologi bersama mitra Malaysia.
Antologi Dari Sahabat baru edisi pertama. Subaryo mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, akan diterbitkan edisi lanjutan dengan cakupan kerja sama yang lebih luas, melibatkan lebih banyak lembaga pendidikan dari kedua negara.
“Kami ingin siswa-siswa ini tumbuh sebagai pemimpin bangsa yang sudah bersahabat sejak dini. Persahabatan ini akan melahirkan kemajuan dan perdamaian bersama,” tutupnya.
Peluncuran buku ini menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya soal keterampilan kerja, tapi juga tentang membangun karakter, budaya, dan hubungan antarbangsa. Dari sahabat, untuk masa depan.