Ahli Ungkap Misteri Geologi Lubang Ketol Aceh

  • 25 Feb 2026 10:04 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Fenomena lubang raksasa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yang terus meluas dalam beberapa tahun terakhir, dinilai bukan merupakan sinkhole klasik seperti yang umum terjadi di kawasan batu gamping berongga. Para ahli menegaskan, gejala yang terjadi lebih mengarah pada longsoran yang dipicu erosi bawah permukaan dan kejenuhan air pada lereng curam.

Hal itu mengemuka dalam dialog interaktif Banda Aceh Menyapa yang disiarkan RRI Banda Aceh pada Selasa (24/2/2026), menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur peneliti, akademisi, dan pemerintah daerah.

Peneliti Ahli Utama Bidang Geoteknik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Adri Tohari, M.Eng, menjelaskan bahwa secara teoritis sinkhole terbentuk akibat runtuhnya lapisan tanah penutup di atas batu gamping berongga. Namun, berdasarkan kondisi geologi di Ketol, lapisan penyusunnya didominasi material vulkanik muda, bukan batu gamping karst.

“Fenomena yang terlihat lebih tepat dikategorikan sebagai longsoran yang dipicu erosi bawah permukaan dan kejenuhan air pada kaki lereng. Rembesan air melemahkan material tuf vulkanik yang rapuh, sehingga bagian lereng runtuh secara bertahap,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemiringan lereng yang curam serta musim hujan yang masih berlangsung mempercepat proses pelemahan tanah. Karena itu, pengendalian muka air tanah menjadi salah satu langkah teknis yang dapat dipertimbangkan, disertai perkuatan lereng dan sistem drainase bawah permukaan (subdrain).

Senada dengan itu, dosen Program Studi Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Bambang Setiawan, ST, M.Eng, Sc, menyampaikan bahwa hingga kini terdapat tiga hipotesis yang berkembang, yakni longsoran biasa, erosi bawah permukaan (piping), atau adanya rongga bawah tanah yang dipicu rekahan geologi.

Menurut Bambang, kesimpulan final harus menunggu hasil investigasi lapangan yang lebih komprehensif, termasuk survei geolistrik, pengeboran, dan pemasangan alat pemantau muka air tanah.

“Setiap hipotesis membawa implikasi penanganan berbeda. Karena itu, kita perlu memastikan penyebab dominannya sebelum menentukan mitigasi jangka panjang,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pengalihan aliran air permukaan yang menuju lokasi longsor sebagai langkah cepat untuk memperlambat perkembangan lubang.

Peneliti Ahli Utama Bidang Geoteknik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Adri Tohari, M.Eng, Dosen Program Studi Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Bambang Setiawan, ST, M.Eng, Sc,Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, ST, M.Sc, dan Staf Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Aceh Tengah, Ir. Atika Pratiwi, ST dalam dialog interaktif Banda Aceh Menyapa yang disiarkan RRI Banda Aceh pada Selasa (24/2). Foto : RRI/Lis

Sementara itu, Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, ST, M.Sc, mengungkapkan bahwa area terdampak terus bertambah luas dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pemantauan, perkembangan longsoran dipengaruhi kombinasi faktor kemiringan lereng, material vulkanik yang mudah jenuh air, aliran permukaan, serta kemungkinan getaran akibat aktivitas patahan di sekitar wilayah tersebut.

“Fenomena alam seperti ini sulit dihentikan, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui mitigasi struktural dan nonstruktural,” ujarnya.

Dari sisi kebencanaan, Staf Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Aceh Tengah, Ir. Atika Pratiwi, ST, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah memasang pembatas dan papan peringatan di zona rawan, serta mengalihkan sebagian aliran drainase yang sebelumnya mengarah langsung ke lokasi longsor.

BPBD juga telah menyiapkan jalur alternatif bagi masyarakat dan melakukan sosialisasi kebencanaan secara berkala.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area longsor dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Waspada itu penting, tetapi tidak perlu panik,” ujarnya.

Para narasumber sepakat bahwa fenomena di Ketol menjadi pengingat bahwa Aceh berada di kawasan geologi aktif dan dinamis. Terlepas dari perdebatan istilah sinkhole atau ngarai, yang terpenting adalah peningkatan kewaspadaan, edukasi publik, serta percepatan kajian ilmiah sebagai dasar penanganan jangka panjang.

Dengan pendekatan ilmiah dan kolaborasi lintas lembaga, diharapkan risiko lanjutan dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Rekomendasi Berita