Rektor UIN Ar-Raniry Jadi Pembicara International Book Fair
- 29 Sep 2025 09:31 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman menegaskan pentingnya literasi ekonomi, sebagai bekal menghadapi era pasca-minyak. Hal itu disampaikan saat menjadi keynote speaker atau pembicara dalam soft launching buku “Era Mutiara: Dari Kemiskinan Menuju Kemakmuran” dalam kegiatan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025, Jakarta, pada Minggu (28/9/2025).
Buku yang ditulis tim Pusat Trends untuk Riset dan Konsultasi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, oleh dosen UIN Ar-Raniry, Muqni Affan Abdullah. Karya tersebut memuat perjalanan panjang Uni Emirat Arab (UEA) dari masa pra-mutiara, kejayaan industri mutiara, keruntuhannya, hingga bergantung pada minyak sebagai sumber ekonomi utama.
Menurut Prof. Mujiburrahman, pesan utama buku ini relevan bagi Indonesia, termasuk Aceh dalam merancang strategi pembangunan jangka panjang. Serta turut mengapresiasi Direktur Trends Research & Advisory, Sultan Faisal Al-Remethi yang memberi kesempatan kepada UIN Ar-Raniry untuk menerjemahkan karya tersebut.
“Kita harus belajar dari pengalaman UEA. Berakhirnya era minyak tidak boleh menjadi krisis baru, tetapi momentum untuk menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan. Literasi ekonomi menjadi kunci agar masyarakat siap menghadapi transformasi itu,” ujarnya.
Sementara itu penerjemah buku, Muqni Affan menjelaskan buku Era Mutiara terdiri atas enam bab yang memaparkan analisis komprehensif tentang dinamika ekonomi UEA. Muqni berharap dapat menjadi rujukan penting bagi Indonesia dalam menghadapi transisi energi di masa depan.
Adapun enam bab utama buku ini mencakup masa pra-mutiara di kawasan Emirat dan sejarah industri mutiara, aspek ekonomi era mutiara, mulai dari regulasi, investasi, hingga infrastruktur pasar, dampak sosial-budaya era mutiara, termasuk peran perempuan dan perubahan sosial.
“Runtuhnya industri mutiara pada 1920–1960-an serta dampaknya pada ekonomi dan masyarakat, penemuan minyak dan perannya sebagai pengganti industri mutiara dan persiapan UEA menghadapi era pasca-minyak,” tutup Muqni.