Media Bergantung AI, Terancam Kehilangan Pembaca

  • 09 Feb 2026 23:34 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Wartawan tidak dianjurkan menggantungkan sepenuhnya pekerjaan jurnalis kepada kecerdasan buatan (AI), dalam penyajian berita kepada khalayak bahkan tanpa hadir di lapangan saat terjadi peristiwa.

“Yakin dan percaya media seperti itu akan kekurangan pembacanya karena tidak terindeks oleh Google maupun Meta,” kata Hilarius Fery Jahang, Ketua PWI NTT dalam perbincangan RRI Atambua, Senin 9 Februari 2026.

Lanjutnya Jurnalis muda perlu perbanyak perbendaharaan kata, tata Bahasa, serta penggunaan kosa kata yang baik sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

“Karena kalau semuanya diserahkan ke AI, bukan saja digunakan untuk mengedit, akibatnya seorang jurnalis tidak akan berkembang daya analisanya,” ucap Fery dalam Program Obrolan Komunitas.

Hal ini adalah tantangan bagi pekerja Pers saat ini. “Kita selalu mendorong kepada teman-teman wartawan itu jangan menjadikan AI ini sebagai tools utama,” tuturnya.

“Bahwa AI memang ketika disuruh mengerjakan berita, perintah yang diberikan bisa dilakukan dalam waktu singkat tidak seperti manusia yang harus berpikir dan merangkai kata,” ujarnya.

Lanjutnya dalam konteks penulisan berita yang sepenuhnya dikerjakan AI, ketika di-upload akan terbaca atau terindeks bukan bagian dari kerja manusia. Sehingga jika terus berlangsung maka akan ditinggal pembaca.

“Keunggulan kita terletak pada deskripsi, itulah akan mengalahkan AI karena kelemahannya tidak bisa lakukan laporan secara detail tentang peristiwa dilapangan. Pembaca inginkan rincian kejadian yang dikemas menarik itu magnetnya,” ujarnya.

Rekomendasi Berita