BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Buruk di Maluku
- 10 Mar 2026 17:42 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon : BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca buruk di wilayah Maluku pada periode 10 hingga 16 Maret 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon, Kamari, mengatakan berdasarkan hasil analisis kondisi atmosfer, terdapat beberapa faktor yang memicu potensi cuaca signifikan di wilayah Maluku dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Kamari, terdapat sirkulasi siklonik di wilayah Australia dan di utara Papua yang menyebabkan terbentuknya belokan angin dan konvergensi di wilayah Maluku.
“Selain itu, suhu muka laut di Laut Banda yang cukup hangat, yaitu berkisar 28 hingga 31 derajat Celcius dengan anomali minus 0,5 hingga 0,5 derajat Celcius, menyebabkan adanya penambahan massa uap air yang mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif,” ujar Kamari dalam siaran pers yang diterima RRI.
Ia menjelaskan, kelembapan udara pada lapisan bawah hingga atas berada pada kisaran 70 hingga 90 persen. Kondisi ini juga didukung aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Maluku.
Kamari menambahkan, labilitas atmosfer berada pada kategori sedang hingga kuat yang mengindikasikan potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal.
“Kondisi atmosfer tersebut berpengaruh terhadap proses pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di wilayah Maluku yang berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang sesaat dalam beberapa hari ke depan,” ucapnya.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat mewaspadai hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang sesaat di sejumlah wilayah, antara lain Kota Ambon, Kota Tual, Kabupaten Buru, Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Maluku Barat Daya.
Kamari mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca buruk yang dapat menyebabkan penurunan jarak pandang secara tiba-tiba serta risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gelombang tinggi.
“Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG,” kata Kamari.