Warga Werinama SBT Minta Talud Penahan Abrasi Diperkuat
- 11 Mar 2026 04:35 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon – Pemandangan tak biasa terlihat di pesisir Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur, pada Selasa sore (10/3/2026). Ombak yang datang silih berganti membuat garis pantai terlihat semakin sempit. Air laut terus merayap masuk ke area yang biasanya kering dan jauh dari jangkauan pasang harian.
Fenomena pasang laut ini menjadi tontonan warga sekitar. Namun di balik itu, kekhawatiran mulai muncul karena air yang mendekati daratan bisa menjadi pertanda buruk bagi permukiman yang berada tak jauh dari bibir pantai.
Rahman Lessy, salah satu warga yang dikonfirmasi RRI, mengaku sudah menyaksikan sendiri bagaimana laut perlahan naik. Menurutnya, kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi, bahkan setiap tahun air laut terus menunjukkan pergerakan naik ke daratan.
"Setiap tahun air laut naik, daratan makin sempit. Kami berharap pemerintah provinsi Maluku bisa melihat langsung kondisi ini. Talud yang ada sekarang kalau hanya retak atau pecah, kami khawatir ombak besar akan langsung masuk ke rumah-rumah warga," ujar Rahman dengan nada cemas.
Ia menambahkan, penambahan talud atau pemecah ombak seperti batu kubus sangat dibutuhkan agar talud yang ada lebih kuat menahan terjangan ombak. "Kami minta taludnya ditambah, pakai batu kubus biar lebih tahan. Kalau hanya talud biasa, kami takut tidak sanggup menahan ombak besar ke depannya," imbuhnya.
Fenomena pasang laut di Werinama ini menjadi pengingat bahwa wilayah pesisir Maluku termasuk daerah yang rentan terhadap kenaikan permukaan air laut. Kondisi ini juga sejalan dengan imbauan BMKG yang beberapa kali memperingatkan potensi banjir pesisir (rob) di sejumlah wilayah Maluku, termasuk Seram Bagian Timur, akibat fenomena pasang maksimum air laut .
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya datang saat air sudah naik, tetapi juga hadir dengan solusi jangka panjang. Pembangunan infrastruktur pelindung pantai seperti pemecah ombak dinilai menjadi kebutuhan mendesak, mengingat setiap tahun ancaman yang sama terus berulang.
Sementara itu, warga hanya bisa berharap dan terus waspada. Mereka berjaga-jaga jika suatu saat ombak besar benar-benar datang menerjang pemukiman.