Aset Daerah Terbengkalai, Kolam Renang Subulussalam Jadi Semak

  • 28 Feb 2026 12:14 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam : Kolam renang milik Pemerintah Kota Subulussalam yang terletak di Desa Pegayo, Kecamatan Simpang Kiri, kini berubah menjadi kawasan terbengkalai. Fasilitas yang diharapkan menjadi ikon olahraga daerah tersebut tampak kontras dengan lokasinya yang sangat strategis.

Bangunan yang berada di bawah pengawasan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispora) Kota Subulussalam ini berdiri di atas lahan seluas 5.648 meter persegi. Letaknya yang bersebelahan langsung dengan lapangan sepak bola Desa Pegayo sebenarnya memiliki potensi besar bagi masyarakat sekitar.

Sayangnya, realita di lapangan sangat jauh dari harapan. Sejak rampung dibangun, kolam renang tersebut tidak pernah beroperasi satu hari pun untuk melayani masyarakat, meninggalkan catatan kelam kegagalan pengelolaan aset daerah selama enam tahun terakhir.

Kondisi fisik sarana dan prasarana saat ini sangat memprihatinkan. Area sekitar kolam kini dipenuhi semak belukar dengan rumput liar yang menjulang tinggi, sementara struktur bangunan terlihat semakin kusam dan tidak terurus akibat minimnya perawatan.

Padahal, pada tahun 2025 lalu, Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin, sempat melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi kolam. Namun, hingga awal tahun 2026, belum ada tanda-tanda perbaikan berarti yang dilakukan pemerintah setempat.

Tak hanya terbengkalai, sejumlah fasilitas pendukung juga dilaporkan raib digondol pencuri. Komponen penting seperti mesin pompa air, seng penutup, hingga pintu kamar mandi kini hilang tanpa bekas, semakin memperparah kerusakan yang ada.

Bangun Angkat, warga setempat yang menjadi petugas kebersihan aset Pemko Subulussalam, menjadi saksi bisu kemunduran fasilitas tersebut. Ia mengungkapkan fakta miris di balik pengurusan kolam renang yang kini kondisinya menyerupai lahan kosong itu.

Bangun mengungkapkan bahwa ia bahkan belum menerima honor selama 17 bulan terakhir. “Sekitar enam tahun terakhir keadaan kolam seperti ini, karena tidak ada anggaran untuk perawatan. Bahkan selama satu tahun lima bulan saya tidak menerima gaji,” ungkap Bangun, Jumat 27 Februari 2026.

Demi menjaga area tersebut agar tidak benar-benar hancur, ia mengaku sering menggunakan dana pribadi untuk kegiatan pembersihan secara inisiatif sendiri. Ironisnya, bantuan peralatan kerja dasar pun tidak pernah ia terima dari dinas terkait.

“Sudah beberapa kali saya diminta membuat proposal, bahkan secara langsung menyampaikan kepada kepala dinas. Namun sampai sekarang belum terealisasi,” tuturnya dengan nada kecewa terkait minimnya respons pemerintah atas proposal yang ia ajukan.

Bangun menambahkan, sangat disayangkan jika aset berharga tersebut dibiarkan menjadi sarang semak belukar. Padahal, jika dikelola dengan maksimal, kolam renang ini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan daya tarik wisata lokal.

Kini, harapan satu-satunya tertuju pada iktikad baik pemerintah. Warga berharap adanya intervensi serius dari Pemko Subulussalam untuk segera melakukan perbaikan terhadap sarana olahraga ini agar dapat difungsikan sebagaimana mestinya demi kepentingan khalayak umum.

Rekomendasi Berita